Dari sisi energi, sistem tersebut dirancang menggunakan panel surya sebagai sumber utama. Dalam satu sistem, teknologi ini dapat menggunakan sekitar 29 panel surya yang dibagi untuk mendukung pompa, mesin RO, dan unit UV.
Kebutuhan daya mesin disebut sekitar 2.700 watt. Sistem panel surya kemudian disiapkan dengan kapasitas lebih besar untuk menjaga kestabilan produksi ketika terjadi perubahan intensitas radiasi matahari.
Apabila kebutuhan air mengharuskan sistem tetap berproduksi pada malam hari, teknologi tersebut juga dapat dikembangkan menggunakan sistem hybrid dengan sumber listrik PLN.
“Kalau dibutuhkan produksi malam, kita bisa hybrid dengan listrik,” ujarnya.
Untuk kapasitas produksi, satu unit teknologi yang ditawarkan mampu menghasilkan sekitar 250 liter air per jam, dengan waktu operasional yang dapat disesuaikan berdasarkan kebutuhan dan pemeliharaan mesin.
Sistem ini juga dirancang agar tetap dapat bekerja ketika cuaca mendung atau hujan karena panel surya memanfaatkan radiasi matahari, bukan semata-mata cahaya matahari langsung.
Rencana tersebut menjadi salah satu alternatif bagi Pemkot Makassar, untuk menjawab kebutuhan air bersih masyarakat di wilayah kepulauan yang memiliki karakteristik berbeda dengan kawasan daratan.
“Teknologi desalinasi berbasis energi surya, memiliki potensi untuk dikembangkan secara bertahap di pulau-pulau yang memiliki sumber air laut melimpah tetapi menghadapi keterbatasan akses terhadap air bersih,” ungkapnya.
Melalui kajian dan penerapan teknologi tersebut, ia berharap pelayanan dasar berupa akses air bersih dan air minum dapat semakin merata, termasuk bagi masyarakat yang tinggal di wilayah kepulauan.
“Program ini sekaligus menjadi bagian dari upaya menghadirkan solusi pelayanan publik yang memanfaatkan potensi lokal dan energi terbarukan,” tutup Imam. (*)












