“Mari kita teruskan perjuangan para ulama dan santri. Kita tidak perlu menjadi seragam untuk menjadi satu, karena dalam keberagaman itulah kita menemukan kekuatan sebagai bangsa,” kutip Munafri mengulang pesan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
“Santri siaga jiwa raga, Makassar untuk Indonesia,” tutupnya sebelum mengucap salam.
Sedangkan, Wakil Wali Kota Makassar, Aliyah Mustika Ilham, menyampaikan bahwa santri telah menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
“Santri adalah penjaga moral bangsa dan penggerak nilai-nilai kebajikan di tengah masyarakat,” ujarnya.
Kegiatan dzikir dan doa bersama ini berlangsung penuh kekhusyukan. Selain lantunan shalawat, acara juga diisi tausiah kebangsaan oleh para ulama serta doa bersama untuk keselamatan bangsa, khususnya Makassar.
Menurutnya, nilai kesederhanaan, kedisiplinan, serta cinta tanah air yang dimiliki para santri harus terus dirawat dalam kehidupan bermasyarakat.
“Semangat keikhlasan, cinta tanah air, dan keteguhan iman para santri menjadi teladan bagi kita semua dalam membangun Indonesia yang damai dan bermartabat,” tambah Aliyah Mustika Ilham.
Ia menegaskan bahwa peringatan Hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni, namun momentum untuk meneguhkan kembali komitmen kebangsaan di tengah tantangan global yang terus berkembang.
“Peringatan Hari Santri adalah momentum untuk meneguhkan kembali peran santri sebagai pilar persatuan dan penjaga nilai-nilai luhur bangsa, terutama di tengah tantangan zaman yang terus berubah,” jelasnya.












