“Saya lihat kemarin teman-teman Karang Taruna sudah memulai proses pembibitan, beternak lele, dan sebagainya. Itu yang sangat dibutuhkan. Tidak hanya piawai beretorika, tapi juga ada implementasi yang bisa diperlihatkan,” tambah dia.
Munafri mencontohkan, pengelolaan budidaya sederhana seperti lele bisa dikembangkan menjadi rantai usaha yang memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar, asalkan ada skema distribusi yang tepat.
“Logikanya simpel sekali. Pelihara lele, jualannya juga tidak usah jauh-jauh, ke rumah makan sari laut saja sudah selesai. Tapi yang harus kita pikirkan, bagaimana ini diterima pasar. Yang pertama soal harga. Kalau lebih mahal daripada tempat biasa mereka beli, tentu tidak mau,” jelasnya.
Selain urban farming, Wali Kota juga menekankan potensi pengelolaan sampah plastik sebagai salah satu sumber pendapatan alternatif.
Untuk itu, Munafri mendorong organisasi pemuda, termasuk HMI Makassar Timur, agar membentuk tim kerja percontohan yang konkret, misalnya pilot project urban farming atau pengelolaan sampah plastik.
“Ada percontohan, misalnya HMI Makassar Timur bersama Pemkot bikin pilot urban farming atau sampah plastik, nanti kita laksanakan bersama,” katanya.
Menurutnya, model kerja sama seperti ini akan menjadi kebanggaan bersama ketika ada pihak luar yang ingin belajar dan melihat langsung praktik pemberdayaan di lapangan.
“Saya mau supaya proses kolaborasi ini nyata dan kelihatan. Mau bina lorong, mau bikin kebun percontohan. Tinggal sampaikan ke Pemkot, Karena dalam program besar kami memang fokus untuk pembinaan masyarakat,” tutup Munafri.












