“Hantu Mesra” Makassar Menarik Perhatian Wamenkes RI, ini Alasannya 

“Kalau ada hampir 10 ribu kasus, berarti ada ribuan rumah yang harus dikunjungi. Seluruh anggota keluarga harus diperiksa gratis, bukan hanya untuk TBC, tetapi juga dicek gula darah, tekanan darah, dan dilakukan foto rontgen,” tuturnya.

“Dengan begitu, jika ada penyakit lain seperti diabetes, hipertensi, atau gangguan paru dan jantung, bisa ditangani lebih awal,” lanjutnya.

Untuk mendukung upaya tersebut, Kementerian Kesehatan RI akan menyalurkan bantuan alat kesehatan berupa rontgen portabel.

Alat ini memiliki bobot ringan, sekitar tiga kilogram, sehingga dapat digunakan secara fleksibel hingga ke tingkat kelurahan dan rumah warga.

“Kami akan menyerahkan alat rontgen portabel yang bisa dibawa ke mana-mana. Bisa digunakan di puskesmas, kantor kelurahan, bahkan langsung ke rumah warga. Ini akan sangat mempermudah proses diagnosis,” jelasnya.

Khusus untuk Kota Makassar, pemerintah pusat menargetkan penyaluran sekitar 20 unit alat rontgen portabel.

“Dengan kapasitas satu alat melayani sekitar 3.000 pasien, kami perkirakan sebanyak 60.000 warga Makassar akan menjalani pemeriksaan sepanjang tahun 2026,” tutup Benyamin.

BACA JUGA:  Makassar Sabet Paritrana Award

Sementara itu, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menyampaikan apresiasi atas dukungan penuh dari pemerintah pusat dalam upaya penanggulangan TBC di Kota Makassar. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kota Makassar terus mendorong berbagai inovasi layanan kesehatan yang menjangkau langsung masyarakat.

“Pak Wamen telah memberikan support yang sangat luar biasa. Ini tentu menjadi semangat bagi kami untuk menyelesaikan persoalan TBC di Kota Makassar,” ujarnya.

“Puskesmas-puskesmas kami, termasuk Puskesmas Ballaparang, memiliki inovasi yang sangat baik dan ini adalah tugas kita bersama untuk menyelesaikannya,” tambah Appi.

Ia menjelaskan bahwa program “Hantu Mesra” menjadi solusi konkret dalam menghadapi tantangan sosial, di mana masih banyak warga yang enggan memeriksakan diri karena stigma dan ketakutan.

Ini adalah cara yang tidak hanya menunggu bola, tetapi menjemput bola. Penyakit TBC ini banyak yang tidak mau diperiksa atau tidak mau diketahui kalau sakit.

“Dengan metode mengetuk pintu rumah warga, ini menjadi jalan keluar yang sangat efektif,” jelasnya.

Munafri menargetkan, dengan intervensi serius dan kolaborasi lintas sektor selama tiga tahun ke depan, kasus TBC di Kota Makassar dapat ditekan secara signifikan.

BACA JUGA:  IGS 2026: Warisan Epik La Galigo dan Kuliner Khas, Pukau Delegasi Internasional di Makassar

“Target kita jelas, nol TBC dalam 2 sampai 3 tahun ke depan. Kita intervensi secara maksimal, dan mudah-mudahan pada 2029 persoalan TBC di Makassar bisa kita tuntaskan hingga ke akar-akarnya,” tegasnya.

Munafri mengatakan, Pemkot Makassar terus mendorong agar program-program kesehatan dapat diakses secara luas oleh masyarakat, terutama dalam menjawab persoalan penyakit menular yang masih menjadi tantangan serius, seperti tuberkulosis.

“Pemerintah Kota Makassar terus melakukan berbagai inovasi di bidang kesehatan untuk menjangkau masyarakat secara lebih luas” ” ungkapnya.

“Program-program ini harus benar-benar bisa diakses oleh masyarakat, salah satunya melalui inovasi yang dibuat oleh Puskesmas Ballaparang,” lanjut Munafri.

Dia menegaskan, program Hantu Mesra ini adalah cara yang sangat baik karena tidak hanya menunggu bola, tetapi menjemput bola.

Petugas kesehatan turun langsung mengetuk pintu rumah warga untuk melakukan pemeriksaan dan edukasi.

Menurut Munafri, pendekatan tersebut dinilai efektif karena selama ini masih banyak masyarakat yang enggan memeriksakan diri atau bahkan takut diketahui mengidap penyakit tuberkulosis.

Kondisi ini kerap menjadi penghambat dalam upaya deteksi dan penanganan dini. Lanjut dia, penyakit tuberkulosis ini sering kali tidak terdeteksi sejak awal karena banyak orang yang tidak mau diperiksa atau tidak ingin diketahui kalau sedang sakit.