NusantaraInsight, Makassar — Di aula Kantor Kecamatan Mamajang yang diterangi sinar matahari Jumat pagi, 27 Maret 2026, udara terasa lebih ringan bukan karena angin, tapi karena janji.
Camat Mamajang, M. Rizal ZR, S.STP, berdiri tegak di depan deretan kursi, membuka Sosialisasi Pengelolaan Sampah Terpadu seperti pembuka simfoni.
“Ini bukan sekadar acara,” katanya, suaranya mengalir seperti sungai yang membersihkan, “ini sinergi antara kita dan tanah yang kita pijak.”
Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Ziaul Haq Nawawi, S.Pi., M.Si, memimpin irama.
Dengan slide yang menari-nari di layar, ia mengurai rahasia sampah berupa pemilahan seperti memisahkan biji dari buah, pengangkutan bagai denyut nadi kota, hingga pengolahan yang mengubah limbah menjadi tanah subur.
Peserta berasal dari lurah se-Kecamatan Mamajang, kepala seksi kebersihan kelurahan, pengawas lapangan mengangguk, mata mereka mencerminkan pemahaman baru.
Sampah bukan lagi musuh; ia adalah puisi yang bisa dibaca ulang.
Rizal menekankan harmoni itu dalam sambutannya menyanyikan pemerintah dan masyarakat harus berjabat tangan, seperti akar pohon yang saling menguatkan.
“Implementasikan ini di wilayah kalian,” pesannya, pesan ini agar Mamajang tak lagi jadi tempat sampah berbisik, tapi ladang kebersihan yang bernyanyi.”
Hadir pula Kepala Seksi Kebersihan Kecamatan Mamajang, siap menjadi konduktor orkestra ini.
Kegiatan pun usai, meninggalkan gema. Harapan mengudara dengan koordinasi lebih erat, komitmen lebih dalam, hingga Kecamatan Mamajang bangkit sebagai oasis bersih, sehat, berkelanjutan dengan tempat di mana sampah tak lagi membusuk, tapi berubah menjadi lagu abadi lingkungan.












