“Kebudayaan bisa dikenali lewat praktik tradisional maupun modern. Dari cara masyarakat belajar, sistem pendidikan, hingga pola ekonomi,” ujar Alwy Rachman.
Tak hanya itu, Alwy Rachman juga menyoroti keretakan dalam sistem sosial hari ini. Ia menyebut istilah “Tisu sosial” (Jejaring Sosial) yang digagas oleh Emile Durkheim sebagai bahan refleksi bagi pondasi bangsa. Namun kini, narasi besar yang menyatukan warga bangsa telah tergantikan oleh serbuan data acak. “Informasi menggantikan narasi. Dialog bergeser menjadi debat yang diabolik. Saling bantah tanpa membangun,” katanya tajam.
Dislokasi budaya pun terjadi. Banyak masyarakat hari ini tercerabut dari konteks kebudayaannya sendiri. Mereka hidup di ruang asing yang tak lagi memberi makna. Restorasi sosial, yang seharusnya mengembalikan manusia pada akar budayanya, justru direduksi menjadi _gimmick_ politik.
Alwy Rachman mengingatkan, bangsa Indonesia tumbuh dari kekuatan migrasi berbagai suku dan komunitas. Namun, proyek-proyek kebudayaan hari ini kerap gagal membentuk kesadaran kolektif karena terlalu sibuk pada simbol, bukan substansi.
“Kita perlu membangun nasionalisme dari bawah: dari ruang keluarga, ruang komunitas, hingga ruang budaya,” tegasnya.
Menutup paparannya, Alwy Rachman menyodorkan tantangan utama hari ini: merawat jejaring sosial di tengah gempuran kapitalisme, politik identitas, dan budaya digital yang mereduksi nilai. “Kita butuh nasionalisme baru. Yang dibangun bukan di atas dominasi, melainkan pada dialog, solidaritas, dan keberagaman,” katanya.
Pada sesi tanggapan, salah seorang peserta, menyoroti minimnya pemahaman Pancasila di kalangan anak muda. “Pancasila banyak dipahami dalam ruang-ruang politik. Hari ini anak-anak muda sangat kurang pemahaman tentang Pancasila, bahkan ada yang tidak memahami butir-butir yang ada pada Pancasila,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa narasi kebangsaan saat ini nyatanya banyak dijadikan slogan oleh partai-partai politik, dan perbincangan tentang nilai-nilai kepancasilaan di lingkungan kampus pun sangat jarang ditemui.
Menanggapi hal tersebut, Muttaqin memberikan pandangan. Menurutnya, yang kita butuhkan hari ini adalah penggalian makna filosofis dari dasar negara kita, khususnya Pancasila. Sayangnya, itu tidak terjadi. Wacana-wacana besar yang bersifat paradigmatik kini hampir tidak terdengar. “Yang kita jumpai justru perbincangan praktis tanpa pondasi filosofis yang kuat. Padahal dalam tradisi filsafat Islam, misalnya, kita mengenal _hikmah nazariyah_ (ilmu-ilmu teoritis) dan _hikmah amaliyah_ (ilmu-ilmu praktis), yang semestinya hadir dalam membangun _worldview_ (pandangan dunia) dan ideologi bangsa,” Ujar Muttaqin.












