Hal inilah yang memantik kesadaran dan pergerakan nasional. “Di mulai dari buruh pabrik gula yang menuntut hak, yang didukung oleh buruh kereta api. Hingga berujung pangasingan oleh penguasa,” jelas Trian. Berbagai perkumpulan dilakukan sebagai upaya mempersiapkan kemerdekaan Indonesia melalui kerja sama dengan kaum terpelajar pribumi untuk membentuk dominion yang Merdeka. “Jika kemerdekaan tak kunjung diberikan, maka menurut Bung Hatta perlawanan dengan senjata menjadi tak terelakkan,” ujar Trian mengakhiri sesi.
Di sesi tanggapan, Zulkifli, salah seorang peserta memberikan respons atas pernyataan: “Kemerdekaan politik menjadi prasyarat bagi kemandirian ekonomi.” Ini berarti Bung Hatta ingin menyampaikan bahwa kita tidak boleh didikte oleh bangsa lain terkait nasib kita, baik secara politik maupun ekonomi. Zulkifli mengajukan pertanyaan yang reflektif, “Setelah kemerdekaan, apakah hari ini kita benar-benar tidak didikte oleh pihak asing, sehingga dapat dikatakan merdeka secara politik dan mandiri secara ekonomi?”
“Dalam tulisan Bung Hatta menyinggung kemerdekaan politik dan kemandirian ekonomi, ada satu konsep yang merekatkan keduanya, yaitu KEDAULATAN,” Rahmadi memberikan tanggapan baliknya. Kemerdekaan politik bagi Bung hatta, tidak hanya dapat kita lekatkan pada momen Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tetapi lebih dari itu kemerdekaan politik mesti dilekatkan pada kedaulatan rakyat menentukan nasibnya sendiri.
Bagi Trian, indikator kemerdekaan politik dapat kita lihat secara tersirat dari pernyataan Bung Hatta: tidak adanya tekanan kepada masyarakat, tidak dibatasinya kebebasan pers dan mengemukakan pendapat, dan tidak adanya teror serta ancaman pada tokoh-tokoh pergerakan. “Ini yang perlu kita lihat. Ironisnya, masih terjadi di negara kita bahkan setelah kemerdekaan.”
Diskusi berlangsung riuh, dengan dihadiri oleh peserta dari berbagai kalangan, baik mahasiswa, dosen, ASN, aktivitis lingkungan, dan juga pelaku usaha serta karyawan swasta. (RW)












