Salah satu sektor krusial yang disorot lainnya adalah pendidikan. Zulkifli Tryputra, Kepala SMP Lazuardi Athaillah GCS Makassar, menjelaskan sejumlah negara menunjukkan betapa pentingnya menjadikan pendidikan sebagai pondasi pembangunan. “Jepang, misalnya, langsung mendata tenaga pendidik yang tersisa pasca bom atom, sementara Finlandia menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama setelah mereka merdeka.” Kini, kedua negara tersebut berhasil melahirkan sistem pendidikan terbaik di dunia.
Indonesia justru masih tertinggal. Penelitian lembaga internasional menempatkan Indonesia di peringkat 79 dari 82 negara dalam penguasaan sains, matematika, dan teknologi. Selain itu, praktik pungutan dana dari sekolah untuk berbagai kegiatan menunjukkan lemahnya tata kelola pendidikan nasional.
“Kondisi ini menjadi sinyal bahwa kedaulatan bangsa tengah tergerus, salah satunya karena kegagalan menjadikan pendidikan sebagai pilar utama pembangunan,” ungkap Zulkifli.
Firman, salah seorang peserta yang bekerja di bidang media mengungkap, kedaulatan di dunia digital pun terancam oleh maraknya hoaks, disinformasi, dan propaganda asing. Akun-akun bayaran dan berita palsu dibuat secara masif untuk memecah belah dan menggoyahkan persatuan.
“Tantangan ini bukanlah hal baru,” ungkap Satriawan, Peminat Gerakan Koperasi, Pelaku UMKM dan Pembaca Bung Hatta. Bung Hatta jauh-jauh hari telah memperingatkan ancaman terhadap kedaulatan bangsa, namun peringatan itu seolah tak digubris. Pemerintah, baik di tingkat daerah maupun pusat, dinilai belum sepenuhnya mendorong rakyat untuk mandiri. Sejumlah program yang dijalankan justru dianggap melemahkan independensi masyarakat.
Padahal, menurut prinsip tata kelola pemerintahan, tugas utama pemerintah hanya dua: memberikan pelayanan dan melakukan pemberdayaan. Di luar itu, negara seharusnya membuka ruang agar rakyat mampu membangun kemandirian ekonomi, sosial, dan politiknya.
Di lain sisi, lemahnya pemahaman aparatur negara terhadap konstitusi disebut menjadi kendala serius. Banyak pejabat publik dianggap tidak memahami secara utuh tugas dan tanggung jawabnya dalam membangun negara.
Dengan situasi tersebut, penguatan aspek spiritualitas dinilai menjadi pondasi penting untuk menghadapi tantangan bangsa ke depan. Direktur Eksekutif Ma’REFAT INSTITUTE, Mohammad Muttaqin Azikin menjelaskan, “Asupan rohani penting sebagai benteng menghadapi godaan di berbagai lini kehidupan.” Spiritualitas dianggap dapat membentuk karakter dan ketahanan nasional di tengah derasnya ancaman non-militer.












