Kepemimpinan Pergerakan Ala Bung Hatta

Ahmad Hasan menegaskan peran majalah sebagai pengganti podium. Bung Hatta menolak menurunkan kualitas majalah meski dianggap sulit dipahami. “Menurutnya, bukan kualitas media yang harus diturunkan, melainkan kapasitas pembaca yang harus dinaikkan.” Fungsi majalah bukan agitasi instan, tetapi mendidik dan membentuk kesadaran ideologis.

Ia juga mengutip perumpamaan Bung Hatta tentang pemimpin dan rakyat. Pemimpin bukan penyebab rakyat bergerak, melainkan berbicara karena ada kehendak rakyat yang belum tersalurkan. Bung Hatta mengibaratkan, ayam berkokok bukan penyebab datangnya siang, melainkan berkokok karena hari telah siang.

Dalam sesi tanggapan, peserta menyoroti relevansi pemikiran Bung Hatta dengan kondisi politik hari ini. Salah satu tanggapan menyebut bahwa partai politik pada masa awal kemerdekaan adalah instrumen perjuangan bangsa. Namun, kini realitasnya bertolak belakang. “Partai politik yang dahulu menjadi alat perjuangan bangsa, kini kerap dipersepsikan sebagai bagian dari persoalan. Alih-alih memperjuangkan kepentingan publik, partai sering dipandang lebih sibuk mengurus kepentingan elite dan kelompoknya sendiri”

Peserta menilai struktur partai hari ini cenderung tersentralisasi dan bertumpu pada figur. “Banyak partai bergantung pada satu tokoh atau keluarga,” sehingga keputusan penting tidak lahir dari proses kolektif dan demokratis.

BACA JUGA:  Rumah Zakat Borong Dagangan Penjual Jalangkote, Baroncong, Empek-empek dan Jamu di Pantai Losari

Menanggapi diskusi, Erwin menegaskan kembali bahwa, “Pendidikan politik, bagi Bung Hatta, merupakan fondasi utama.” Ia membayangkan partai sebagai laboratorium demokrasi. Jika partai oligarkis, demokrasi negara pun rapuh. Namun, realitas hari ini menunjukkan rekrutmen partai sering instan, berbasis popularitas dan kepentingan elektoral.

Ahmad Hasan menutup dengan menegaskan relevansi Bung Hatta bagi pergerakan masa kini. “Gerakan politik yang sehat tidak lahir dari euforia sesaat, melainkan dari proses panjang pendidikan, pengorbanan, dan konsistensi pada prinsip.”

Diskusi seri ke-15 ini memperlihatkan bahwa kepemimpinan pergerakan dalam pandangan Bung Hatta bukan sekadar figur, melainkan kesatuan peran antara pemimpin, media, dan anggota yang berjalan serempak dalam garis ideologi dan pengorbanan.

Diskusi berakhir tepat pada pukul 16.00 Wita, seperti biasa dihadiri oleh peserta dari beragam kelompok, dari Aparatur Sipil Negara, Aktivis Lingkungan, Akademisi, Mahasiswa dan pelaku usaha UMKM. (RW)