Semua proses tersebut berjalan dalam bingkai kurikulum CAKEP BERDAYA (Cerdas, Kreatif, Empati, Progresif, Berdaya).
Mereka belajar Cerdas, dengan memahami hubungan sebab-akibat dari setiap tindakan.
Mereka dilatih Kreatif, dengan merancang solusi sederhana bagi persoalan lorong.
Mereka menumbuhkan Empati, dengan mendengarkan pengalaman teman-temannya selama Ramadhan.
Mereka diarahkan menjadi Progresif, berani memperbaiki diri dari hari ke hari.
Dan pada akhirnya, mereka menjadi Berdaya, karena kesadaran itu tumbuh dari dalam, bukan karena tekanan.
Pendekatan ini juga sejalan dengan gagasan Paulo Freire tentang pendidikan dialogis bahwa pendidikan bukanlah proses “mengisi gelas kosong”, melainkan membangkitkan kesadaran kritis. Saya merasakan betul bahwa mengedukasi tidak sama dengan memerintahkan. Pendidikan bukan tentang siapa yang paling keras berbicara, tetapi siapa yang paling tulus menyentuh hati.
“Mengedukasi itu seperti melodi gitar; ia tak selalu keras terdengar, namun ketika dipetik dengan hati yang tulus, setiap nadanya mampu menggetarkan jiwa dan menghadirkan keindahan yang tak terlihat, tapi terasa.”
Kegiatan belajar ditutup dengan pembagian susu sehat doa bersama.
Perubahan sosial tidak selalu dimulai dari ruang besar. Ia bisa dimulai dari lorong kecil, dari mutaba’ah sederhana, dari dialog hangat, dan dari pendidikan yang dilakukan dengan hati pelan, konsisten, dan penuh harapan.












