K-apel : Edukasi Kesadaran Kolektif di Ramadhan Hari ke-9

NusantaraInsight, Makassar — Bertepatan dengan Ramadhan hari ke-9, Lorong Daeng Jakking terasa lebih hidup dari biasanya. Meski tubuh sedang berpuasa, semangat anak-anak tidak pernah surut. Satu per satu mereka datang ke Kampus Lorong Komunitas Anak Pelangi (K-apel) dengan langkah ringan. Ada yang masih mengenakan mukena mungkin dari sholat langsung ke Kampus Lorong, ada yang membawa buku tulis yang mulai penuh dengan catatan Ramadhan. Ruang belajar sederhana di tengah lorong itu yang menjadi pusat pengembangan potensi masyarakat K-apel menjadi tempat bertumbuh, bukan hanya secara akademik, tetapi juga secara spiritual dan sosial. Jum’at, 27/2/2026,

Sebelum materi dimulai, kegiatan diawali dengan mutaba’ah yaumian amaliah Ramadhan. Saya meminta mereka menceritakan aktivitas sejak bangun sahur hingga tarawih malam sebelumnya. “Siapa yang bangun sahur tepat waktu?” Hampir semua tangan terangkat. “Siapa yang shalat Subuh berjamaah?” Beberapa menjawab dengan malu-malu, sebagian lain dengan percaya diri. Kami mencatat bersama yakni sahur, shalat lima waktu, membaca Al-Qur’an, membantu orang tua, hingga mengikuti tarawih. Dari sesi mutaba’ah itu, saya melihat bagaimana pembiasaan ibadah mulai membentuk karakter disiplin dan tanggung jawab pribadi.

BACA JUGA:  DPW JOIN Sulsel ke DPD JOIN Jeneponto, ini Bahasannya

Dalam perspektif teori sosial learning Albert Bandura, pembiasaan seperti ini penting karena anak belajar melalui observasi dan penguatan sosial. Ketika mereka saling berbagi pengalaman ibadah, terjadi proses saling meneladani. Ramadhan menjadi ruang pendidikan karakter yang hidup bukan hanya ritual, tetapi proses internalisasi nilai. Di sinilah spiritualitas bertemu dengan pendidikan sosial.

Setelah mutaba’ah, kami masuk pada materi inti yakni edukasi kesadaran kolektif. Tidak ada jarak antara pengajar dan anak-anak. Saya membuka percakapan dengan pertanyaan ringan, “Menurut kalian, kalau lorong kita nyaman dan bersih, siapa yang senang?” Mereka menjawab serentak, “Kita semua.” Jawaban sederhana itu menjadi pintu masuk untuk membahas tanggung jawab bersama, arti kebersamaan, dan pentingnya menjaga lingkungan.

Diskusi berlangsung cair. Ada yang mengaku pernah lalai membuang sampah sembarangan dan kini ingin berubah. Ada yang mengusulkan jadwal piket kecil di lorong. Saya menyaksikan sendiri bagaimana proses kesadaran itu tumbuh perlahan. Apa yang kami lakukan sejatinya selaras dengan konsep collective consciousness Émile Durkheim bahwa solidaritas sosial terbentuk dari nilai dan kesadaran bersama yang terus dipupuk dalam komunitas.