Bagi saya Berbagi Itu Ibadah, Bermanfaat Itu Kehormatan
Dalam setiap langkah K-apel, saya selalu memegang satu hadits yang menjadi kompas:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” ~ HR. Ahmad
Hadits ini memang sederhana dalam pengucapan namun, Ia menuntut keikhlasan, kesabaran, dan keberanian untuk tetap baik meski disalahpahami. Dan dari sanalah K-apel terus bergerak bukan untuk menjadi besar, tapi untuk menjadi berguna.
Karena berbagi bukan sekedar aktivitas sosial. Ia adalah ibadah. Ia adalah cara mencintai sesama sebagai jalan mencintai Allah SWT. #BerbagiItuCinta
CAKEP BERDAYA: Belajar yang Membumi, Hidup yang Bertumbuh
Dalam obrolan di KompasTV itu, kami menyampaikan tentang Kurikulum CAKEP BERDAYA yakni sebuah ikhtiar agar setiap kegiatan tidak berhenti di papan tulis. Kurikulum ini berfokus pada pendekatan praktis : 80% keterampilan dan 20% pengetahuan teoritis, agar apa yang dipelajari bisa langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Tujuannya jelas: pemberdayaan masyarakat. Meningkatkan literasi dan keterampilan hidup, dengan fokus pada potensi lokal yang sering luput dari perhatian.
Nilai-nilai CAKEP BERDAYA kami rawat sebagai napas gerakan:
Cerdas, agar berpikir jernih
Arif, agar bersikap bijak
Kreatif, agar mampu berinovasi
Empati, agar tidak kehilangan rasa
Progresif, agar terus bergerak
Berdaya, agar tidak bergantung
Seperti pesan Ki Hadjar Dewantara, “pendidikan menuntun tumbuhnya kekuatan kodrat manusia.” Dan kami percaya, lorong pun adalah ruang tumbuh.
#BerbagiItuCinta
Lima Kekuatan yang Menjaga Kami Tetap Berdiri
“Kenapa K-Apel bisa bertahan sampai sekarang?”
Pertanyaan itu sering datang. Jawabannya tidak rumit, tapi dalam.
Jawabannya karena K-apel memiliki lima kekuatan besar yang menjaga K-apel tetap hidup yakni
Kekuatan pertama : Niat
K-apel lahir dari niat yang sederhana namun jujur yakni menghadirkan ruang belajar dan harapan. Niat menjadi kompas yang menjaga arah, meski langkah sering sunyi dan tak selalu terlihat.
“Hal besar selalu berawal dari niat yang kecil namun dijaga dengan kesungguhan.”
Kekuatan kedua : Iman
Iman adalah penopang batin dalam setiap proses K-apel. Ia menumbuhkan keyakinan bahwa setiap anak dan ibu punya potensi, dan setiap usaha mendidik adalah investasi masa depan.
“Iman bukan tentang melihat hasil hari ini, tetapi percaya pada makna yang sedang ditanam.”
Kekuatan ketiga : Cinta
Cinta adalah bahasa yang paling dipahami di K-apel. Dari cinta lahir ketulusan, dari ketulusan tumbuh keberlanjutan. Tanpa cinta, kerja sosial hanya rutinitas; dengannya, ia menjadi pengabdian.
“Cinta membuat kita bertahan, bahkan ketika lelah tak menemukan kata.”












