Saya teringat pesan Mufti Menk yang selalu terasa seperti pelukan tenang bahwa,
_”Lebih baik kehilangan sesuatu demi Tuhan, daripada kehilangan Tuhan demi mendapatkan sesuatu.”_
Kata-kata itu seperti jangkar.
Menahan saya agar tidak hanyut mengejar pengakuan.
Menjaga agar niat tetap pulang ke tempat yang benar.
Tentang bahagia, saya justru banyak belajar dari anak-anak.
Mereka tertawa tanpa syarat.
Belajar tanpa beban pencitraan.
Datang sebagai diri mereka sendiri, lalu pulang dengan hati yang ringan.
_”Kebahagiaan sejati bukan pada banyaknya yang dimiliki, tetapi pada tenangnya hati.”_ ~ Imam Al-Ghazali
Dan entah mengapa, hati saya tenang di sini.
Di ruang kecil ini.
Di antara cerita polos dan mimpi-mimpi yang belum tercemar ambisi.
Tentang sukses, saya mulai berdamai dengan definisinya.
Bahwa sukses tidak selalu berarti naik ke atas.
Kadang sukses adalah tetap tinggal dan setia.
Seperti kata Nelson Mandela :
_”Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat Anda gunakan untuk mengubah dunia.”_
Mungkin saya tidak sedang mengubah dunia.
Tapi jika satu anak berubah cara memandang hidupnya, maka ada satu dunia kecil yang ikut bergeser.
Tentang kebaikan, saya belajar untuk tidak sibuk menghitung.
Karena kebaikan punya caranya sendiri untuk pulang.
_”Dan teruslah menebar kebaikan, karena kita tidak tahu kebaikan mana yang dapat menembus langit dan menggoncang ‘Arsy.”_ ~ Rahman Rumaday
Namun di antara semua renungan itu, ada satu ayat yang selalu datang sebagai pengingat paling jujur yakni surat As-Shaff ayat 2 yang artinya _”Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan?”_
Ayat ini seperti cermin.
Tidak marah, tapi tegas.
Seakan bertanya,
_”Apakah langkahmu sudah sejalan dengan ucapanmu?”_
Di K-apel ini, saya tidak ingin pandai berkata-kata.
Saya ingin pelan-pelan menjadi.
Seperti kata Hasan Al-Bashri;:
_”Iman bukanlah angan-angan, tetapi apa yang menetap di hati dan dibuktikan dengan amal.”_
Maka saya memilih diam yang bekerja, bukan suara yang ramai tapi kosong.
Saya ingin, jika pun lelah,
lelah itu bernilai ibadah.
Dan sore itu, sambil merapikan meja belajar, dan karpet, menutup pintu,
saya berbisik pada diri sendiri bahwa,
Tidak apa-apa berjalan pelan.
Tidak apa-apa terlihat kecil.
Selama arahmu jelas.
_Parang Tambung, 21/12/25_












