PSI Dukung Dua Periode, Presiden Prabowo “Ganggu” Letkol Teddy: “Kok Tepuk Tangan Lebih gemuruh?”.

Dalam kesempatan istimewa itu, Presiden Republik Indonesia ke-8, Prabowo Subianto, mengungkapkan sebuah pernyataan yang mengejutkan, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) rupanya mampu membaca suasana hati dan isi pikirannya terkait pemilihan gajah sebagai logo baru mereka, hasil Kongres ke-I di Kota Solo, Jawa Tengah, pada 19-20 Juli 2025.

Di hadapan para hadirin, Sang Presiden menyatakan bahwa gajah adalah salah satu binatang yang sangat dicintainya, dan orang-orang terdekatnya bisa menjadi saksi. “PSI intelnya bagus sekali. Jadi, PSI ini bisa membaca isi hatinya Presiden Republik Indonesia. Banyak yang dekat dengan saya tahu betapa salah satu binatang yang paling saya sayangi adalah gajah,” tegasnya, disambut tepuk tangan meriah.

Ia melanjutkan, “Ini benar atau tidak, mantan-mantan Sekpri (Sekretaris Pribadi) saya semuanya tahu, benar kan. Kawan-kawan yang sudah pernah ke Hambalang di perpustakaan saya, gambarnya itu semua gajah,” memperkuat kedekatannya dengan hewan berbelalai tersebut.

Prabowo bahkan mengaku sedang membangun wilayah konservasi gajah seluas lebih dari 20 ribu hektar di Aceh, dengan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni sebagai saksinya. “Saksinya Menteri Kehutanan dan Menteri Lingkungan Hidup, saya sedang membangun, punya rencana untuk membangun konservasi gajah,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Tim Nasional U-23 Torehkan Tinta Emas dengan lolos ke semifinal Piala Asia U-23

Gajah, Simbol Kekuatan dan Solidaritas PSI

Sebelumnya, Ketua Umum PSI terpilih, Kaesang Pangarep, telah menjelaskan alasan di balik pemilihan logo gajah. Menurutnya, gajah menyimbolkan kekuatan, kecerdasan, keteguhan, dan solidaritas. “Logo partai PSI kini resmi berubah menjadi gajah. Gajah adalah simbol kekuatan, kecerdasan, keteguhan, dan solidaritas,” ucap Kaesang.

Ia menambahkan bahwa sifat-sifat inilah yang ingin mereka tanamkan dalam diri setiap kader PSI: “berpikir jernih, bergerak bersama, tidak mudah goyah, dan menghadapi tantangan zaman.” (*)