NUANSA ‘IDEOLOGIS’ PUISI UNTUK PALESTINA

Puisi untuk Palestina
Diskusi buku Puisi untuk Palestina

Kedua, penyair memperhadap-hadapkan dua ‘elemen politis’ dalam relasi yang kolonialistik: Israel yang membuldozer membabi-buta dan Palestina sebagai pihak ‘termangsa’.

Dengan konteks isi yang sama, puisi : “Menunggu Waktu Subuh Di Gerbang Masjid Al-Aqsa”,
penyairnya menggoreskan pena: Penantian menjagaku // Di balik gerbang Al-Aqsa berdiri manusia congkak // bersenapan // Jamaah masjid agung dengan kubah hitam berdatangan // Aku ketuk bandul pintunya tanpa rasa takut // Apa harus berlari dari penindasan?

Pada bait ini, Al-Aqsa ditampilkan lebih tegas sebagai simbol ‘politik perlawanan’. Para jamaah tetap berdatangan tanpa rasa takut, untuk menunjukkan ‘hak politik’ mereka.

Meski dijaga dengan senapan dan kecongkakan, kaum ‘pemegang hak politik’ itu, tidak akan pernah berlari dari para penindas.

Adalah sulit terhindarkan dari nuansa ideologis ketika menulis topik Palestina secara umum, atau secara khusus, Gaza. Terutama ketika negeri asal-usul para Nabi itu, memasuki era sejarah pasca Deklarasi Balfour, awal abad 19. Sebuah ‘kesepakatan’ yang berdampak pada proses transplantasi ‘kebangsaan Israel’ di bumi Palestina, tanpa akar ‘nasionalisme’.

BACA JUGA:  Netanyahu Siapkan Daftar Target 'Balas Dendam' ke Iran

Bangsa cangkokan itu kemudian berkamuflase secara formal menjadi negara. Pada saat yang sama, ‘pemilik sah’ tanah itu, begitu ‘sulit’ diakui eksistensinya sebagai negara, secara pasti.

Jalan ‘Jihad’

Pasca deklarasi itu, perjalanan bangsa Palestina adalah perjalanan jihad tiada ujung sejarah.

‘Jihad’ membebaskan diri kolonialisasi kaum zionis. Suatu kerja kemanusiaan yang tiada letih, hingga “Janji Abadi” tertunaikan: kemenangan Cahaya atas kegelapan. dan Al-Aqsa kembali utuh kepada yang Haq.

Solidaritas atas jihad bangsa Palestina dalam ragam bentuknya, dari seluruh bangsa-bangsa muslim, juga adalah refleksi dari ‘jalan jihad’ itu sendiri. Termasuk, ketika para penyair yang menyumbang tulisan puisi-puisi mereka dalam buku Puisi Untuk Palestina, bolehlah dikatakan, mereka sedang menempuh ‘jalan jihad’ melalui sastra, khususnya dalam bahasa puitik.

Jika jihad, dimaknai secara umum sebagai jalan perang pisik, maka jalan jihad dalam sastra adalah perang ‘ideologi’. Gagasan, keyakinan, prinsip-prinsip, ide dan harapan ideal (kaum muslim), menjadi muatan isi dalam ungkapan puitik, dalam rangka motif: ‘pembebasan’ Palestina.
Membayangkan: seluruh simbol, tanda dan huruf kebahasan puitik itu, dengan seluruh maknanya, menjelma ribuan roket berhulu ledak ‘nuklir hikmah’, berbaris rapi, menelusuri awan cerah melintasi benua-benua, menerobos perbatasan Israel, dan dengan ‘lembut’, menghujam uluh hati setiap zionis, yang dengannya, kaum itu, dipercepat langkahnya menuju ‘padang penghukuman’ ukhrawi.

BACA JUGA:  Catatan Ringan untuk Wali Kota Baru: "RANGKUL POTENSI SERPIHAN YANG TERBURAI...."

SM. 23/3/2024