“Siri bukan hanya soal melawan hukum atau peraturan. Siri berarti kami memegang standar tinggi dalam menghargai diri sendiri dan orang lain,” ujarnya.
Lanjut politisi Golkar itu, bahwa istilah Tabe – ungkapan sopan santun sebelum memasuki percakapan atau ruang pertemuan.
“Dengan izin Anda (permisi). Ini bukan hanya tradisi, tapi cara kami memastikan relasi sosial berjalan setara dan saling menghormati,” katanya.
Kemudian, Appi melanjutkan dengam sebutan Kita – kebersamaan dan solidaritas. Dimana menggambarkan sebutan atau ajakan santun kepada orang lain.
“Kita adalah bentuk inklusif dari kami. Dalam menghadapi tantangan, kami tidak berjalan sendiri, tapi bersama-sama,” imbuhnya.
Munafri menyebut, nilai-nilai itu menjadi pegangan kepemimpinan yang memprioritaskan martabat kemanusiaan, kolaborasi, dan kekuatan informasi.
Gambaran umum, Munafri mengajak para pemimpin dunia merenungkan tiga kata kunci kearifan lokal yang menjadi identitas masyarakat Makassar: siri’, tabe’, dan kita.
Yang pertama, siri’ berarti martabat. Di Makassar, martabat diharapkan dari semua orang—bukan hanya pemimpin. Ketika seseorang melanggar aturan, itu bukan sekadar pelanggaran hukum, tapi juga mencederai harga dirinya.
“Siri’ adalah pengingat bagi kita semua untuk selalu hidup dengan integritas, bahkan ketika tidak ada yang mengawasi,” sebutnya.
Nilai kedua, lanjut Munafri, adalah tabe’, yang bermakna sopan santun dan izin.
“Di Makassar, kami tidak memaksakan kebijakan. Kami mulai dengan tabe’. Kami bertanya. Kami mendengarkan. Kami melanjutkan dengan hormat,” tuturnya.
Sementara kata ketiga, kita, bermakna kebersamaan yang inklusif. Ini bukan sekadar kebiasaan bahasa, melainkan cerminan bahwa memimpin bukan hanya untuk rakyat, tapi bersama rakyat.
“Dalam percakapan sehari-hari, masyarakat kami sering mengganti ‘kamu’ dengan ‘kita’. Ini bukan sekadar kebiasaan bahasa, melainkan cerminan bahwa kami memimpin bukan hanya untuk rakyat, tapi bersama rakyat,” ujar Munafri.
Ia menutup pidatonya dengan refleksi mendalam, bahwa di tengah percepatan teknologi dan otomatisasi global, justru kearifan lokal yang menjadi penopang nilai-nilai kemanusiaan dalam kepemimpinan perkotaan.
“Bermartabat dengan rendah hati. Berkuasa dengan izin. Memimpin melalui kebersamaan,” pungkasnya, disambut tepuk tangan para delegasi.
Di forum ini, Munafri tak hanya membawa nama Makassar ke panggung internasional, tetapi juga menegaskan bahwa kearifan lokal memiliki tempat terhormat dalam peta inovasi global.












