Saking menantangnya, trek yang biasanya dilalui 3 jam akhirnya kami tempuh dalam waktu 5 jam perjalanan. Kami tiba sudah hampir Magrib.
Malam itu, kami putuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan karena kabut semakin tebal, dan cuaca semakin dingin.
Belum lagi, kami melihat kondisi anggota juga masih kelelahan. Maka kami putuskan untuk istirahat dan makan serta mempersiapkan pendakian berikutnya untuk menuju ke Pelawangan.
Dinamakan Perlawangan ini sesungguhnya punggungan Gunung Rinjani.
Di sini tempat untuk camp bagi teman-teman pendaki yang ingin ke Puncak Dewi Anjani 1, 2, 3, 4. Semakin tinggi perjalanannya semakin dekat dengan tempat untuk camp. Kami tinggalkan tempat ini pukul 04.00.
Kemudian, dari Bukit Penyesalan kurang lebih kami tempuh selama 5 jam. Nama Bukit Penyesalan ini terasa unik.
Dinamakan demikian karena, katanya, kadang ada yang menyesal di sini. Bahwa ternyata untuk menuju ke puncak masih jauh, sementara mau pulang pun sudah kadung di atas.
Sampai di Danau Segara Anak kita bisa mendapatkan sumber air. Kembali kami camp di sini. Proses pendakian bersama orang dewasa dan anak-anak ini kami tempuh dalam waktu 12 jam untuk sampai di puncak kering.
Sempat kami mendirikan shelter karena di tengah perjalanan tiba-tiba datang badai. Sehingga kami putuskan untuk membuat folder tempat berlindung agar segera masuk.
Semua memakai alat pengaman sendiri. Setelah 30 menit, badai berlalu. Akhirnya pendakian bisa kita lanjutkan.
Pendakian di Gunung Rinjani ini saya perkirakan, 60% berasal dari mancanegara.
Sangat disayangkan, saat badai tidak ada penanganan. Bahkan Tim SAR, yang jumlahnya 3 orang, mungkin karena kelelahan hanya tidur.
Setelah itu kami mulai melangkah ke Puncak Dewi Anjani.
Medan di sini cukup sulit karena berbatu dan berpasir. Kalai kami melangkah satu langkah, malah turun 1 meter. Tidak naik, malahan turun.
Jadi betul-betul saya sebagai leader perlu memperhatikan kondisi semua anggota tim.
Kami memakai webbing sling, yakni pita datar terbuat dari anyaman untuk menarik kita yang ada di bawah agar tidak terperosok. Dan harus dipastikan yang kita injak itu kokoh dan kuat.
Walau kami melangkah satu demi satu, akhirnya, alhamdulillah, bisa sampai ke Puncak Dewi Anjani.
Saat mencapai puncak itu, saya menggendong anak kami, menaruhnya di bagian depan. Anak-anak kami yang lain terlihat senang, karena serasa dekat sekali dengan awan.
Kami tak henti-henti menyebut asma Allah, sebagai rasa syukur bisa merasakan salah satu kuasa dan karunia Tuhan di bumi pertiwi. (*)
Laporan: Andi Try Andrian (Tim Punggawa Adventure)












