14 Kunci Menjadi Editor

Kunci berikut atau yang keempat adalah KOSAKATA atau perbendaharaan kata. Modal sebagai pembaca segala, akan sangat berguna menjadi seorang editor. Dengan terbiasa membaca banyak hal, setidaknya ikut menambah perbendaharaan kata, dan tentu saja menambah wawasan. Kunci kelima adalah KAIDAH kebahasaan dan penulisan. Ini sesuatu yang perlu diperhatikan sebab punya aturan yang pasti. Karena saya seorang otodidak, maka biasanya saya melihat pola, lalu saya adaptasi. Saya banyak membaca dan menjadikan media-media mainstream seperti Harian Kompas dan Majalah Tempo, sebagai rujukan.

Seorang editor harus KRITIS, skeptis dan punya kemampuan analitis. Itu sebagai kunci keenam. Sikap kritis, skeptis, dan punya kemampuan analitis, merupakan kunci untuk bisa melihat kekurangan naskah. Kadang, suatu kalimat terlihat aman, tapi sesungguhnya mengandung pertanyaan soal kesahihan informasi dan fakta-fakta yang ditulis dalam naskah. Misalnya, ada kalimat “saya makan di tempat yang biasa disinggahi juga oleh kalangan selebritas”. Pertanyaannya, benarkah tempat itu biasa disinggahi selebritas? Siapa saja selebritas yang pernah singgah di situ? Dan pertanyaan-pertanyaan indepth lainnya yang masih bisa dikembangkan.

Kunci ketujuh adalah KOMPETENSI. Maksudnya, kompetensi teknis yang terkait pengeditan dan penulisan buku. Juga kompetensi teknologi karena bersentuhan dengan komputer dan laptop, atau berselancar di dunia maya, yang membantu kemudahannya dalam bekerja. Kunci kedelapan adalah KOMUNIKASI. Komunikasi merupakan soft skill yang diperlukan seorang editor untuk mengkonfirmasi, mengklarifikasi, atau memvalidasi informasi dalam naskah buku yang tengah dikerjakan. Dia perlu melakukan itu agar informasi dalam buku yang diedit menjadi jelas, logis, dan dapat dipertanggungjawabkan. Apalagi jika punya nilai sejarah, berkaitan dengan pengetahuan umum, atau bersentuhan dengan orang lain.

BACA JUGA:  Pemprov Sulsel Canangkan "Gadis 2024"

Selanjutnya, kunci kesembilan adalah KONSISTENSI. Penggunaan istilah atau sapaan harus konsisten. Jika menggunakan kata “aku”, maka kata itu terus dipakai, jangan di gonta-ganti dengan “saya”. Itu contoh konkretnya. Kunci kesepuluh adalah KETERBACAAN, yang memungkinkan naskah atau buku kita lebih mudah dipahami, lebih mengalir alur ceritanya, atau bangunan gagasannya terstruktur baik. Kunci kesebelas adalah KOMPREHENSIF atau KOMPLIT. Namanya juga buku, sebaiknya informasi yang disuguhkan juga kaya: data, informasi, perspektif, teori, dan lain-lain. Sudut pandang yang luas, juga akan membuat pembaca bisa menikmati buku tersebut. Ibarat kita menyantap makanan yang kaya bumbu, tentu akan lebih nikmat.

Kunci keduabelas adalah KESAMAAN frekuensi. Seorang editor sejatinya tak hanya berhadapan dengan teks yang disodorkan padanya. Sangat dianjurkan untuk dia bisa memasuki cara berpikir dan ruang batin orang yang punya buku, si penulis buku. Dia perlu membangun kesamaan persepsi dengan penulisnya. Dia perlu mengatrol diri agar, paling tidak, setara dalam hal bacaan dengan penulis buku itu. Saya misalnya, ketika mengedit buku dan penulis bukunya menyebut dia membaca buku Stephen R. Covey, “The 7 Habits of Highly Effective People”, maka saya akan membaca buku itu pula. Meski tak harus tuntas. Paling tidak, saya paham mengapa dia menyukai gagasan tentang tujuh kebiasaan yang dikemukakan buku tersebut. Ketika penulis menyebut dia mendengarkan Kenny G, maka saya akan mendengarkan liukan bunyi saksofon musikus tersebut, sambil mengedit bukunya.

BACA JUGA:  Wali Kota Makassar Pembicara pada Pelatihan Produksi Dakwah Digital Muhammadiyah Sulsel

Kunci ketigabelas adalah KLIEN. Seorang editor merupakan pekerja profesional. Dia tahu kepada siapa produknya akan diberikan, yakni pemesan, dalam hal ini, penulis buku. Jadi, dia mesti fokus pada mitranya itu. Dengan catatan, tidak berarti dia manut saja. Tetap perlu ada diskusi, sharing, dan masukan. Biar bagaimanapun, produk akhir dari buku itu juga merupakan karyanya. Apakah namanya sebagai editor terdapat di cover atau ngumpet di balik halaman, tetap dia juga menjadi bagian dari rasa memiliki buku itu. Diskusi di sini, termasuk tentang format bukunya seperti apa, gaya reportase, naratif/bercerita, tulisan ilmiah populer, atau bernuansa sastra. Kunci terakhir atau keempat belas adalah KUALITAS produk. Demi menjaga kualitas pengeditan, saya menerapkan standard quality control, tentu dalam versi saya.