Berdasarkan realitas penegakan hukum tersebut, publik tidak pernah betul percaya bahwa pemerintah dari waktu ke waktu akan mampu menegakkan keadilan secara bermartabat. Penegakan hukum masih akan tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Keadilan akan tetap ‘berbulu’ dikaitkan dengan relasi kekuasaan. Padahal, negara ini sudah sejak dulu memproklamasikan diri sebagai negara hukum. Meskipun hanya sebuah utopia pada tataran narasi dan literasi belaka. Itulah wujud keadilan yang “berbulu”. (*).
Catatan MDA: Potret Hukum yang “Berbulu”
Baca Juga
Rekomendasi untuk kamu

Menjelang masa tuanya, di desa kelahirannya, Ady membangun lapangan sepak bola mini standar FIFA yang diresmikan pada saat Ramadan tahun 2025. Ibunda Ady, Muktaman, menendang bola menandai peresmian lapangan karpet…

Bima, NusantaraInsight — Sejak saya tiba kembali di Bima 18 Juni 2026 malam, kondisi kesehatan Ibu tidak juga mengalami perbaikan. Di tangannya masih terpasang infus, bantuan darurat yang juga bakal…

Saya pun pergi mencari tempat keduanya menonton. Anak-anak menunjuk rumah tempat keduanya menonton. Lantaran saya tidak kenal nama siapa pemilik rumah, saya sampai di ujung desa, sekitar 200m jaraknya dari…

“Dengan demikian, nilai budaya dalam karya sastra tidak bersifat mutlak, tetapi bergantung pada konteks masalah dan perjalanan hidup yang dialami setiap tokohnya.(mda). Berita Terkait Ady Setiawan Ikut Usung Keranda Ibunda…

Saya membayangkan kemungkinan terburuk, mustahil PWI Sulsel akan menadatangani. Duka demi duka mengurus pencalonan ini belum juga usai. Bagaikan berlapis dan sistematis. Lolos yang ini, dihadang lagi pada syarat yang…








