CAHAYA DALAM: Lewat Lensa, Goenawan Monoharto Menyelami Jiwa Pakarena

Makassar, NusantaraInsight — Pameran tunggal seni fotografi karya Goenawan Monoharto resmi digelar di Galeri De La Macca, berlangsung 5–9 Oktober 2026. Mengusung tema Pakarena: Insigth the light” Senirupa Fotografi”, kegiatan ini merupakan rangkaian kelima dari sembilan pameran tunggal dalam program besar Spirit Leang-leang: “Nafas Panjang Seni Rupa Makassar”.

Puncak acara pembukaan dan sesi diskusi berlangsung 6 Oktober 2026. Suasana dibuka dengan kehadiran maestro musik tradisi Basri B Sila yang membawakan Pui-pui — ungkapan syukur sekaligus doa agar pameran membawa berkah dan manfaat. Pernyataan seniman menyusul, mengungkapkan hakikat di balik karya-karyanya. Pembukaan resmi dilakukan oleh Ketua Umum DKM, M. Juniar Arge. Acara dilanjutkan diskusi menghadirkan narasumber Dr. Nur Alim Djalil (Akademisi Universitas Fajar, Mantan Wapimred Harian Fajar), dengan Yudistira Sukatanya — seniman, penulis, dan budayawan — bertindak sebagai moderator.

Sebelumnya, program Spirit Leang-leang telah menampilkan pameran Asman Djasmin (Anti Estetika), Den Dede (Tutur), Budi Haryawan (Our Home), dan Ishakim (Pasar: Transaksi Rupa dalam Gua Batu). Kesembilan pameran ini nantinya diterbitkan dalam buku profil biografi para seniman. Kegiatan dikoordinasikan Wahyuddin Yunus, dengan Achmad Fauzi sebagai kurator.

BACA JUGA:  MERAH PUTIH

Filosofi Pakarena: Gerak yang Memuja Keseimbangan

Tari Pakarena bukan sekadar pertunjukan keindahan. Di setiap gerakannya tersimpan filosofi mendalam masyarakat Gowa-Tallo:
Gerakan yang lembut namun kokoh melambangkan kelembutan hati yang tak tergoyahkan, kesetiaan, dan kerendahan hati;
​
Putaran tubuh yang perlahan mencerminkan peredaran alam semesta, keteraturan langit dan bumi;
​
Jari-jari yang menari mengikuti irama adalah penghormatan kepada pencipta serta ungkapan syukur atas rezeki yang diberi;
​
Kesederhanaan busana dan atribut mengajarkan bahwa kemuliaan sejati bukan dari hiasan luar, melainkan dari ketulusan jiwa.

Pakarena mengajarkan: bergeraklah dengan anggun, berjalanlah dengan teguh, dan tetaplah rendah hati.

Menangkap Cahaya, Menyingkap Jiwa

Di sini, fotografi tak sekadar merekam bayangan. Bagi Goenawan Monoharto, lensa adalah mata yang melihat ke balik tampak luar:

Cahaya bukan sekadar penerang bentuk, melainkan penyingkap makna tersembunyi di balik setiap gerakan;
​
Keheningan dalam bingkai mengabadikan detik yang tak terulang — mengingatkan bahwa keindahan sejati seringkali singkat dan patut dihargai;
Bayangan yang hadir menyertai cahaya mengajarkan bahwa tiada terang tanpa gelap; keduanya saling melengkapi, seperti hidup yang dijalani dengan menyeimbangkan sukacita dan ujian;
​Setiap potret adalah dialog antara masa lalu yang diwariskan dan masa kini yang dijalani.

BACA JUGA:  Catatan pertunjukan Teater Kepahlawanan Sultan Hasanuddin: SANG HERO PENJAGA MARTABAT MANUSIA

Cahaya yang Tak Pernah Padam

Melalui pameran ini, Goenawan Monoharto menjembatani dua dunia: kebijaksanaan Pakarena dan ketajaman pandangan fotografi. Ia mengajak kita tidak sekadar memuji keindahan tampak, melainkan menyelami makna di baliknya — bahwa warisan budaya bukan benda mati di rak kenangan, melainkan napas yang terus berhembus.

“Fotografi menjadi jembatan yang menghubungkan pengalaman pribadi, eksplorasi pengetahuan, dan pemahaman mendalam tentang budaya — melahirkan pandangan baru yang dapat dinikmati semua orang.” Catatan Kuratorial

Di tengah perubahan zaman yang terus berputar, karya-karya ini bersaksi: tradisi tidak kaku, tidak beku, tidak usang. Ia hidup, selama masih ada jiwa yang memahaminya, mata yang memandangnya dengan hormat, dan tangan yang meneruskannya.