Oleh: Dr. Pantja Nur Wahidin, M.Pd.
NusantaraInsight, Makassar — Bulan Ramadhan tidak sekadar menghadirkan suasana religius dengan meningkatnya aktivitas ibadah ritual tetapi juga menjadi momentum spiritual untuk menata kembali relasi manusia, baik dengan Allah maupun dengan sesama manusia.
Dalam ajaran Islam, kedua relasi ini dikenal dengan istilah hablum minallah (hubungan dengan Allah) dan hablum minannas (hubungan dengan manusia).
Keduanya merupakan dua dimensi yang tidak dapat dipisahkan dalam membangun kehidupan yang utuh dan bermakna.
Dalam realitas kehidupan sehari-hari, sering kita menjumpai fenomena paradoks dalam praktik keberagamaan.
Ada sebagian orang yang sangat tekun menjalankan ibadah ritual, seperti shalat tepat waktu, rajin berpuasa, bahkan aktif dalam kegiatan keagamaan, namun dalam kehidupan sosialnya kurang menunjukkan sikap yang baik. Hubungan dengan keluarga, tetangga, atau rekan kerja tidak harmonis; mudah tersinggung, sulit memaafkan, bahkan kerap memutus silaturrahmi.
Di sisi lain, kita juga menemukan fenomena sebaliknya. Ada orang yang dikenal sangat baik dalam hubungan sosial. Ia ringan tangan membantu sesama, gemar bersedekah, peduli terhadap penderitaan orang lain, dan menjadi pribadi yang disenangi dalam lingkungan masyarakat. Namun dalam hal ibadah kepada Allah, ia kurang menunjukkan kedisiplinan. Shalat sering ditinggalkan, puasa tidak dijalankan secara sungguh-sungguh, dan relasi spiritual dengan Sang Pencipta tidak terbangun secara kuat.
Kedua fenomena ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan dalam memahami ajaran agama. Padahal, Islam mengajarkan bahwa kesalehan sejati adalah perpaduan antara kesalehan spiritual dan kesalehan sosial. Hubungan yang baik dengan Allah harus tercermin dalam perilaku yang baik kepada sesama manusia, begitu pula kepedulian sosial seharusnya berakar pada keimanan dan ketundukan kepada Allah.
Al-Qur’an menegaskan pentingnya keseimbangan ini. Dalam banyak ayat, perintah beriman selalu diiringi dengan perintah beramal saleh. Hal ini menegaskan bahwa keimanan tidak hanya diwujudkan dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam tindakan nyata yang membawa kemaslahatan bagi orang lain. Nabi Muhammad SAW juga mengingatkan bahwa seorang Muslim yang baik adalah mereka yang membuat orang lain merasa aman dari lisan dan tangannya.
Dalam kitab Mukasyafah al-Qulub karya Imam al-Ghazali, diceritakan dialog antara Nabi Musa AS dengan Allah SWT tentang amalan apa yang disukai oleh Allah SWT. Nabi Musa AS bertanya kepada Allah SWT, “Ya Allah, amalan ibadah apa yang paling Engkau senangi dariku. Apakah shalatku?” Allah SWT menjawab, “Tidak. Shalatmu itu hanya untukmu sendiri. Karena shalat membuat engkau terpelihara dari perbuatan keji dan munkar.” Nabi Musa AS pun bertanya kembali kepada Allah SWT, “Apakah dzikirku?” Allah SWT kembali menjawab, “Tidak. Dzikirmu itu untuk dirimu sendiri. Karena dzikir membuat hatimu menjadi tenang.” “Apakah puasaku?” tanya Nabi Musa AS bertambah penasaran. Allah pun menjawab, “Tidak. Puasamu itu hanya untukmu saja. Karena puasa melatih diri dan mengekang hawa nafsumu.” Lalu Nabi Musa pun bertanya, “Ibadah apa yang membuat Engkau senang ya Allah?” “Mencintai sesama dan bersedekah. Tatkala engkau membahagiakan orang yang sedang kesusahan dengan sedekah, sesungguhnya aku berada di sampingnya,” jawab Allah.












