News  

Kerukunan Warga Islam Maluku Gelar Tarawih Bersama

NusantaraInsight, Makassar — Kerukunan Warga Islam Maluku (KWIM) Makassar menggelar Tarawih Bersama di kediaman Prof.Drs.H.Sadly,M.PA.

Tarawih bersama di rumah pembina KWIM, sekaligus mantan Ketua KWIM itu di Kompleks Unhas Baraya, Jalan Sunu, Sabtu, 21 Pebruari malam tadi.

Tarawih bersama dihadiri sesepuh KWIM, hingga mahasiswa asal provinsi para raja itu yang sementara kuliah di kota yang kini dipimpin Munafri Arifuddin dan Aliyah Mustika Ilham ini.

Para jamaah menata susunan shaf yang rapi, dalam ‘melukis’ perjalanan dan keberkahan tarawih yang relatif masih muda, yakni malam ke empat.

Usai tarawih dilanjutkan ceramah agama oleh KH. Machyuddin Latuconsina—juga sesepuh KWIM. Mantan Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Maluku itu mengurai panjang lebar manfaat di bulan suci Ramadhan. Yaitu, bulan yang dapat mengembalikan diri pada satu titik, satu niat suci.

“Setidaknya ada empat pondasi yang ada dalam bulan Ramadhan. Pondasi pertama yaitu puasa selama sebulan penuh. Pondasi kedua adalah terawih dan witir, ketiga hatamul Qur’an, dan pondasi ke empat, bersedekah,” ujarnya, seraya menambahkan, jika menjalankan empat pondasi itu dengan baik, maka dalam setiap diri manusia muslim akan berseri seri, karena ada cahaya iman di dalamnya.

BACA JUGA:  Ombudsman RI Sulsel Perkuat Pencegahan Maladministrasi

Sebelum mengakhiri ceramahnya, mantan Kakandepag Bantaeng itu juga memanjatkan doa keselamatan bagi seluruh ummat Islam, doa atas persatuan umat Islam Maluku di Makassar. Dan, doa agar seluruh harapan mengalir menjadi satu, mengisi ruang‑ruang hati, hingga menembus dinding‑dinding langit yang begitu luas.

Usai ceramah agama dilanjutkan diskusi kecil dipandu Wakil Ketua Bidang Sosial dan Agama (Ul Putuhena).

Dalam diskusi itu mengemuka, keberadaan warga Islam Maluku sudah begitu lama. Mereka telah menyatu dan berbaur dengan kehidupan Bugis-Makassar, bahkan telah beranak pinang di provinsi yang kini dipimpin Andi Sudirman Sulaiman dan Fatmawati Rusdi ini.

Khusus untuk mahasiswa Islam Maluku di Makassar dapat memanfaatkan peluang belajar dengan sungguh sungguh, agar meraih prestasi yang dibanggakan bukan saja oleh keluarga, melainkan agama, dan daerah.

Meski begitu, seluruh warga KWIM di Makassar tidak boleh melupakan akar dan budaya orang Maluku yang harus memupuk kerukunan, menjaga kehormatan, menjaga komitmen, menjaga nama baik, dan menjaga kekerabatan bahwa, mereka datang dari pulau rempah rempah, dari laut yang tak berujung, dan kini berada di Kota Makassar, kota yang terkenal dengan nilai nilai kehormatan siri’ (harga diri), tradisi bahari yang kuat, serta nilai gotong royong.