Dari Teori ke Industri, Prodi Jurnalistik UIN Alauddin Perkuat Kurikulum Berbasis Kompetensi

NusantaraInsight, ‎Gowa — Program Studi Jurnalistik, Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Alauddin menggelar kegiatan review kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE) di Double A Samata, Selasa (17/02/2026). Kegiatan ini sebagai langkah penyesuaian terhadap dinamika industri media yang terus berubah.

‎Kegiatan ini melibatkan dosen, gugus penjamin mutu, mahasiswa, alumni, praktisi media, serta pengguna lulusan dari institusi pemerintah maupun swasta.

‎Ketua Jurusan Jurnalistik, Nur Latif menegaskan bahwa pembaruan kurikulum menjadi kebutuhan mendesak agar lulusan mampu beradaptasi dengan perkembangan dunia jurnalistik modern.

‎“Review kurikulum berbasis OBE ini kami lakukan untuk memastikan capaian pembelajaran benar-benar selaras dengan kebutuhan dunia kerja,” ujarnya.

‎Ia menambahkan bahwa sejumlah mata kuliah lama yang dinilai tidak lagi relevan telah dihapus atau diperbarui.

‎“Kami mengevaluasi secara menyeluruh, termasuk menghapus mata kuliah yang tidak lagi sesuai dengan perkembangan industri media, lalu menggantinya dengan mata kuliah yang lebih kontekstual dan aplikatif,” jelasnya.

‎Menurutnya, perubahan kurikulum ini bukan sekadar formalitas akademik, melainkan strategi peningkatan kualitas lulusan.

‎“Kami ingin lulusan jurnalistik tidak hanya kuat secara teori, tetapi juga memiliki kompetensi teknis, adaptif terhadap teknologi, serta mampu bekerja lintas platform media,” tutup Nur Latif.

‎Sementara itu, Direktur Utama Radio Raz FM, Muannas yang hadir sebagai stakeholder dan pengguna lulusan, menilai pembaruan kurikulum merupakan langkah tepat di tengah perubahan industri media.

‎“Dunia jurnalistik kini berubah drastis seiring massifnya teknologi AI. Oleh karena itu, penting kita sebagai institusi pendidikan untuk menyesuaikan, agar lulusan kita ini mampu bersaing,” katanya.

‎Ia menilai lulusan jurnalistik saat ini dituntut memiliki kemampuan yang lebih luas dibanding generasi sebelumnya.

‎“Media tidak lagi hanya bicara soal menulis berita, tapi juga penguasaan data, teknologi, hingga strategi distribusi konten digital,” ujarnya.

‎Muannas juga menekankan pentingnya kolaborasi antara kampus dan industri.

‎“Kami sebagai pengguna lulusan tentu berharap kampus terus membuka ruang dialog dengan industri agar kurikulum selalu relevan dengan kebutuhan lapangan,” tambahnya.

‎Pandangan senada disampaikan praktisi media, Sayyid Alwi Fauzy, yang menilai kurikulum jurnalistik harus benar-benar berbasis kebutuhan dunia kerja.

‎“Mata kuliah jurnalistik harus disesuaikan dengan kebutuhan industri, bukan hanya mengikuti tren akademik,” ungkapnya.

‎Ia menilai kemampuan teknis dan adaptasi teknologi menjadi faktor utama keberhasilan lulusan.

‎“Mahasiswa harus dilatih menghadapi realitas newsroom modern yang serba cepat, berbasis data, dan terhubung dengan teknologi,” katanya.

‎Menurutnya, integrasi praktik industri dalam pembelajaran menjadi kunci.

‎“Jika kurikulum mampu menghadirkan simulasi kerja nyata, maka lulusan akan lebih siap masuk dunia profesional tanpa banyak penyesuaian,” tuturnya.

‎Dalam review tersebut, Prodi Jurnalistik mengadopsi sejumlah mata kuliah baru ke dalam kurikulum OBE, di antaranya Jurnalistik AI, Big Data dan Algoritma, Media Handling, serta Advertorial.

‎Adapun mata kuliah yang dinilai tetap relevan dan dipertahankan antara lain Media Sosial dan Jurnalistik Digital, Jurnalisme Data, serta Jurnalisme Advokasi.

‎Kegiatan ini diharapkan menjadi pijakan awal penguatan kurikulum berbasis kompetensi yang mampu melahirkan jurnalis adaptif, kritis, dan siap bersaing di era transformasi.

BACA JUGA:  SMKN 1 Kaimana Studi Tiru di SMKN 9 Makassar