Oleh: Mulyati
Mery baru saja selesai makan malam, ia hendak duduk santai di depan TV, sambil menikmati alunan lagu senja di layar kaca.
Tiba tiba matanya tertuju pada ponsel yang tergeletak di atas sofa yang melingkar di ruang tamu. Mery langsung mengambil ponsel tersebut dan membawanya melangkah ke luar rumah, menuju taman bunga di sudut halaman.
Mery adalah salah seorang karyawan swasta pada perusahaan milik rekan ayahnya, sepeninggal ayahnya Mery tak melanjutkan perusahaan ayahnya yang telah dibangun selama bertahun tahun, tetapi memilih untuk bekerja pada perusahaan milik teman ayahnya.
Malam itu serasa mendung tapi angin malam terasa hangat namun sangat lembut membelai dan mengusik sesekali rambut Mery yang dibiarkan terurai begitu saja. Hangatnya angin malam membuat Mery sedikit gerah. Mery bergumam, “ini kan mendung kok gerah yah hmmmm…. ada apa ya kenapa hatiku dag dig dug,” Mery berusaha mengalihkan perhatiannya dan terus memainkan jari jarinya di ponsel kesayangannya seakan malam itu malam yang sangat indah.
Tanpa terasa malam semakin larut Mery sudah merasakan hangatnya malam telah berganti dengan hawa dingin, angin malam berhembus sepoi sepoi, seakan ingin membawanya untuk beristirahat, tiba-tiba matanya tertahan pada notifikasi chat di ponselnya.
Matanya yang bulat dan tajam seakan tak percaya pada apa yang dibacanya, sederet kalimat yang menyampaikan bahwa besok dia harus mengikuti acara penyerahan Surat Keputusan perpindahan bagi beberapa karyawan.
Tiba-tiba Mery berteriak histeris memanggil Ibunya, “ Ibu……… kenapa aku dipindahkan, Ibu,”
Ibu Mery yang yang sedang menikmati suguhan acara Favoritnya di TV kaget dan langsung ke luar rumah.
“Mery kenapa sayang, ada apa kok kamu teriak ada apa sayang “ Ibu Mery (Bu Yolanda) meraih tangan putrinya dengan lembut. Ada apa Nak ayo ceritakan ke Ibu,” sambil memeluk putri kesayangannya.
“Ibu, aku dipindahkan dari tempat kerjaku aku pindah ke luar daerah Ibu, aku tidak mau ibu aku mau di sini aja aku tidak ingin kemana mana, aku sudah nyaman di sini Ibu, hukhukhuk huk,” Mery terus menangis sambil histeris.
Mery menangis, dan terus menangis, hingga kepalanya rasa pening , perutnya mules, “Ibu,,,,,,,, Mery terus berteriak seakan tak sadarkan diri, Ibu………. Mery tak ingin pindah.”
bu Yolanda membiarkan putrinya untuk menangis dan mengeluarkan semua kekesalannya, Bu Yolanda tahu karakter putrinya, ia hanya mengelus lembut putrinya.
Setelah tangisnya agak reda, Bu Yolanda dengan suaranya yang lembut mencoba untuk mengajak bicara Mery Putrinya.












