NusantaraInsight, Sidrap — Mahasiswa KKN Universitas Hasanuddin melaksanakan program kerja individu berupa Pemanfaatan Limbah Pertanian (Bonggol Jagung) sebagai Bahan Pembuatan Media Tanam Biochar di Desa Mattirotasi, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidenreng Rappang.
Kegiatan ini dilaksanakan di halaman Kantor Desa Mattirotasi sebagai upaya pemanfaatan limbah pertanian untuk mendukung pertanian berkelanjutan.
Program kerja ini dilaksanakan pada tanggal 2 Februari 2026 dengan Ahmad Rizky Ramadhan sebagai penanggung jawab dan pelaksana kegiatan.
Kegiatan ini melibatkan masyarakat dan perangkat desa yang memiliki ketertarikan terhadap pengelolaan limbah pertanian dan pemanfaatannya sebagai media tanam ramah lingkungan.
Bonggol jagung merupakan limbah pertanian yang dihasilkan dalam jumlah besar seiring meningkatnya produksi jagung, khususnya di wilayah sentra pertanian seperti Desa Mattirotasi. Desa ini memiliki potensi pertanian jagung yang cukup besar dan menjadi salah satu sumber penghidupan utama masyarakat.
Aktivitas budidaya jagung yang dilakukan secara intensif setiap musim tanam menghasilkan limbah bonggol jagung dalam jumlah melimpah.
Namun, hingga saat ini limbah tersebut belum dimanfaatkan secara optimal dan cenderung dibuang atau dibakar, sehingga belum memberikan nilai tambah bagi petani serta berpotensi menimbulkan permasalahan lingkungan.
Pelaksanaan program kerja ini bertujuan untuk memanfaatkan bonggol jagung sebagai limbah pascapanen menjadi biochar, yaitu bahan pembenahan tanah yang ramah lingkungan.
Bonggol jagung memiliki kandungan karbon dan lignoselulosa yang tinggi sehingga berpotensi besar untuk diolah melalui proses pirolisis menjadi biochar.
Mahasiswa pelaksana mengatakan bahwa pemanfaatan bonggol jagung sebagai biochar diharapkan dapat menjadi solusi alternatif dalam mengatasi permasalahan limbah pertanian sekaligus mendukung konsep pertanian berkelanjutan di Desa Mattirotasi.
Proses pembuatan biochar dari bonggol jagung dimulai dengan tahap pengeringan bonggol jagung, kemudian dilanjutkan dengan proses pirolisis atau pembakaran tanpa oksigen hingga menghasilkan arang.
Arang yang dihasilkan selanjutnya dihancurkan hingga berukuran lebih halus agar dapat digunakan sebagai media tanam atau bahan pembenah tanah.
Metode pelaksanaan kegiatan meliputi sosialisasi, workshop praktik langsung, serta pendampingan kepada masyarakat oleh tim pengabdian.
Selama kegiatan berlangsung, masyarakat memberikan tanggapan yang positif terhadap program kerja yang dilaksanakan.












