Mahasiswa KKNT Unhas Manfaatkan Bonggol Jagung sebagai Briket di Desa Mattirotasi

NusantaraInsight, Sidrap — Mahasiswa KKN Universitas Hasanuddin melaksanakan program kerja individu berjudul “Pemanfaatan Bonggol Jagung sebagai Briket Arang: Inovasi Energi Hijau Pedesaan” di Desa Mattirotasi, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidenreng Rappang.

Kegiatan ini dilaksanakan di Halaman Kantor Desa Mattirotasi sebagai upaya pemanfaatan limbah pertanian menjadi sumber energi alternatif yang ramah lingkungan.

Program kerja ini dilaksanakan pada tanggal 2 Februari 2026 oleh Lisan Fahira, mahasiswa Fakultas Kehutanan, Program Studi Rekayasa Kehutanan, sebagai penanggung jawab dan pelaksana kegiatan.

Kegiatan ini diikuti oleh masyarakat desa yang memiliki ketertarikan terhadap pemanfaatan limbah pertanian sebagai sumber energi terbarukan.

Menurut Lisan, Desa Mattirotasi memiliki potensi sumber daya pertanian yang melimpah, khususnya tanaman jagung yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat.

Namun, limbah bonggol jagung selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dan sering kali hanya dibuang atau dibakar, sehingga berpotensi mencemari lingkungan.

Di sisi lain, masyarakat masih bergantung pada gas LPG yang harganya terus meningkat. Mahasiswa pelaksana mengatakan bahwa inovasi briket arang dari bonggol jagung diperlukan sebagai solusi pengolahan limbah pertanian menjadi sumber energi alternatif yang murah, mudah dibuat, dan ramah lingkungan.

BACA JUGA:  Guru Besar Terbaru Unismuh Makassar Indeksasi Bereputasi, ini Sosoknya

Tujuan pelaksanaan program kerja ini adalah untuk meningkatkan nilai tambah limbah bonggol jagung menjadi briket arang sebagai sumber energi alternatif, memberdayakan masyarakat desa melalui pelatihan keterampilan, serta membuka peluang peningkatan pendapatan keluarga petani.

Selain itu, program ini juga mendukung upaya pengurangan ketergantungan masyarakat terhadap bahan bakar minyak dan gas elpiji dengan memanfaatkan energi terbarukan berbasis potensi lokal.

Proses pelaksanaan program kerja dilakukan melalui metode sosialisasi dan praktik langsung. Kegiatan diawali dengan penjelasan mengenai manfaat briket arang bonggol jagung sebagai energi alternatif.

Selanjutnya, proses pembuatan briket dimulai dari pengeringan bonggol jagung, pembakaran menjadi arang, penghancuran arang menjadi serbuk, pencampuran dengan perekat berupa tepung kanji, pencetakan menggunakan pipa, hingga pengeringan alami.

Mahasiswa pelaksana mengatakan bahwa metode praktik langsung dipilih agar masyarakat dapat memahami setiap tahapan secara mudah dan mampu menerapkannya secara mandiri.

Selama kegiatan berlangsung, masyarakat memberikan tanggapan yang positif dan menunjukkan antusiasme dalam mengikuti setiap tahapan pembuatan briket arang.