News  

Aliman, Alumni SMANSA yang Mengabdi di Daerah 3T

Aliman
Aliman (kiri) saat diwawancarai wartawan NusantaraInsight di Virendy Cafe (15/1/2026)

NusantaraInsight, Makassar — Sudah empat tahun Aliman menjabat Kepala Desa Sabaru Kecamatan Kalmas Kabupaten Pangkep. Desa ini termasuk daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T).

Untuk mencapai Desa Sabaru, menggunakan kapal kayu dari Pelabuhan Paotere, bisa dijangkau sehari semalam. Kalau menggunakan KM Sabuk Nusantara 52 yang termasuk armada tol laut, bisa dua hari dua malam.

“Soalnya, kapal itu akan mampir pada banyak pelabuhan,” ujar anak kedua dari 6 bersaudara pasangan Abd.Razak-Hamidah ini saat bertemu dengan wartawan media ini, 13 Januari 2026 malam di Kafe Virendy, Jl.Andi Pangerang Petta Rani Makassar.

Untuk menjangkau Desa Sabaru dengan aman harus menghitung bulan. Aliman menjelaskan, cuaca buruk terjadi Desember hingga Maret.

Pada bulan Juli, Agustus, dan September, angin bertiup kencang lagi. Yang dikenal dengan “jekne kebo”, angin timur. Suasana teduh terjadi pada bulan April hingga Juni dan Oktober-November.

“Bagaimana soal komunikasi di sana?,” tanya wartawan media ini.

“Kalau mengirim pesan WA hari ini, besok baru tiba,”” ujar ayah lima anak yang menamatkan pendidikan sarjana di Fakultas Ekonomi UMI tahun 1989 ini.

BACA JUGA:  Mahasiswa UNASMAN Lakukan penelitian K3 Di UPTD DAMKAR Polman

Aliran listrik di Pulau Sabaru menyala mulai pukul 18.00 hingga 22.00 yang menggunakan genset. Kini ada yang menggunakan “starling”, namun biayanya mahal.

Pulau Sabaru, kata anak kedua dari enam bersaudara ini, kaya dengan ikan laut. Para nelayan asal Demak, Madura, dan Tegal datang menangkap ikan dengan memanfaatkan teknologi penangkapan di perairan Kalmas.

Sementara nelayan lokal menggunakan alat tangkap tradisional. Para nelayan asal Pulau Jawa itu bahkan memiliki kapal pengumpul yang mengangkut ikan ke Pulau Jawa yang berbeda dengan kapal penangkap digunakan para nelayan yang terus beroperasi berbulan-bulan.

Perairan di sekitar Pulau Sabaru, juga kaya dengan telur ikan terbang. Banyak nelayan Galesong mencari telur ikan di Kecamatan Kalmas, Pangkep. Mereka berbulan-bulan tinggal di perairan Kecamatan Kalmas.

Oleh sebab itu, harga daun kelapa jauh lebih mahal dibandingkan buah kelapa. Daun kelapa digunakan sebagai tempat ikan terbang bertelur. Harga telur ikan per kg berkisar Rp 180.000 hingga Rp 300.000. Namun bila sudah pindah tangan bisa mencapai Rp 1 juta per kg dan diekspor ke Jepang.

BACA JUGA:  Bertemu Kemensos, Munafri Serius Hadirkan Sekolah Rakyat di Pulau

Selain menghasilkan telur ikan terbang, perairan Kecamatan Kalmas guna menghasilkan hidup yang dijual kepada penampung di Kayu Bangkoa Makassar,

Sedangkan ikan yang sudah dimasukkan ke pendingin didaratkan di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Paotere.

“Hanya sayang, fasilitas pelabuhan di Desa Sabaru itu belum ada,” ujar pria yang pernah bekerja sebagai konsultan di beberapa tempat, termasuk di pulau terdepan Miangas Kecamatan Nanusa (Miangas). Kabupaten Talaud Provinsi Sulawesi Utara tersebut.