NusantaraInsight, Makassar — Cerpen “Ibu” karya Bahar Merdhu ini memiliki makna yang cukup dalam meski dikemas dalam narasi yang sederhana. Cerita ini berpusat pada pergulatan batin tokoh “Saya” antara ketergesaan (urusan dunia/waktu) dengan nilai-nilai moral dan kasih sayang.
Hal ini disampaikan Asia Ramli Prapanca melalui keterangan tertulisnya, Rabu (31/12/2025) saat memerah pesan moral yang terkandung dalam Cerpen Ibu karya Bahar Merdhu yang lebih dikenal dengan sebutan Petta Puang.
Ulasan Asia Ramli atau Ram Prapanca ini merupakan rangkaian dari Diskusi Kumpulan Cerpen Ibu pada Hari Ulang Tahun (HUT) Ikatan Penulis Muslim Indonesia (IPMI) pada 24 Desember 2025 lalu.
Ia menyampaikan bahwa pesan pertama muncul saat tokoh utama dilema antara ingin cepat pergi atau menunggu tukang sol sepatu.
Pesan yang disampaikan adalah jangan pernah mengabaikan hak orang lain, sekecil apa pun itu. Nasihat ibu mengenai kejujuran dan keadilan (memberi upah) harus tetap teguh dijalankan bahkan dalam keadaan terburu-buru.
Ibu digambarkan sebagai sosok sentral. Pesan moralnya adalah bahwa berbakti bukan sekadar “datang menemui,” tetapi juga mengingat apa yang mereka sukai (seperti jajanan Apang Bugis) dan menunaikan janji yang berkaitan dengan mereka.
Cerita ini menekankan bahwa janji adalah hutang. Tokoh Amir (seorang Ustadz) menanyakan naskah cerpen bukan tanpa alasan.
“Pesannya adalah: Janji kepada manusia seringkali mudah terlupakan jika tidak ada pengingat yang kuat. Mengaitkan janji dengan sosok ibu adalah cara untuk memastikan janji tersebut ditunaikan, karena seorang anak biasanya tidak akan tega mengecewakan ibunya,” ulas Ram.
Interaksi dengan orang yang meminta korek api dan penjual jajanan menunjukkan dinamika prioritas dalam hidup. Kadang kita dihadapkan pada gangguan-gangguan kecil yang menguji kesabaran.
Pesan tersiratnya adalah kita harus tetap fokus pada tujuan utama (menemui ibu) namun tetap membawa nilai-nilai kebaikan di sepanjang perjalanan.
“Memang: “Kebaikan yang diajarkan ibu bukan sekadar teori untuk diingat, melainkan praktik yang harus dilakukan dalam setiap langkah kehidupan. Menghormati ibu berarti menunaikan tanggung jawab dan janji yang telah kita buat atas namanya,” tutupnya.












