Ram Prapanca Kulik “Ratmini” di HUT IPMI

Ratmini
Dari kiri: Dahlan Abubakar, Yudhistira Sukatanya, Andi Wanua Tangke (penulis Ratmini) Topan. (Foto: Andi Rosnawati).

NusantaraInsight, Makassar — Sutradara Teater dan juga Akademisi Asia Ramli Prapanca atau akrab disapa Ram Prapanca mengulik Cerpen “Ratmini” karya Andi Wanua Tangke pada Bedah Buku kumpulan Cerpen “Ibu” dalam rangka HUT Ikatan Penulis Muslim Indonesia (IPMI) ke-3, Rabu (24/12/2025) di Kafebaca Jl Adhyaksa Makassar.

Dalam paparannya, Ram menyampaikan bahwa Andi Wanua Tangke dalam cerpennya “Ratmini”, mengangkat tema luka sejarah dan dampak kemanusiaan dari peristiwa politik masa lalu di Indonesia.

Cerpen ini mengisahkan Ratmini yang ditangkap puluhan pemuda desa karena dituduh sebagai penjahat politik, sebagai anggota Gerwani. Sundari, anak Ratmini, ingin membawa anaknya, Endang (cucu Ratmini), pergi menziarahi kuburan neneknya, Ratmini. Tapi Sundari tidak tahu: di mana kuburan ibunya?

“Pesan yang paling menonjol adalah bagaimana peristiwa politik tidak hanya berdampak pada mereka yang mengalaminya secara langsung, tetapi juga “diwariskan” kepada anak cucu,” ungkap Ram.

Pencarian Sundari akan makam ibunya menunjukkan kerinduan akan identitas dan kebenaran yang terputus oleh stigma sejarah.

BACA JUGA:  GIGI EMAS

Kisah Ratmini yang ditangkap oleh puluhan pemuda desa tanpa proses hukum yang jelas menggambarkan betapa mengerikannya efek stigma politik.

“Pesan ini mengingatkan pembaca tentang bahaya fanatisme dan bagaimana kemanusiaan sering kali hilang ketika seseorang sudah diberi label “musuh negara” atau “penjahat politik,” lanjut Ram.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, ketidaktahuan Sundari tentang lokasi kuburan ibunya adalah simbol dari sejarah yang digelapkan. Penulis ingin menyampaikan bahwa tanpa kejelasan sejarah dan pengakuan atas apa yang terjadi di masa lalu, generasi berikutnya akan terus hidup dalam ketidakpastian dan beban emosional yang tak kunjung usai.

“Pesan utama dari cerpen ini adalah ajakan untuk berempati terhadap para korban sejarah yang sering kali terlupakan dan terpinggirkan. Cerpen ini menekankan bahwa setiap manusia berhak atas martabat, bahkan dalam kematiannya, dan bahwa luka masa lalu perlu disembuhkan melalui kebenaran, bukan penyangkalan,” pungkas Ram Prapanca.

Pada launching buku, selain Ram Prapanca, juga menghadirkan para pembahas, seperti: Anil Hukma (Penyair dan akademisi), Irwan AT (Seniman dan Jurnalis) dan dipandu oleh Damar I Manakku (Penulis).

BACA JUGA:  MATA PUISI

Hadir pula sejumlah sastrawan, akademisi dan juga jurnalis seperti, Dahlan Abubakar, Yudhistira Sukatanya, Ahmadi Haruna, Prof Kembong Daeng, Syahril Rani Patakaki, Asnawin Aminudin, Andi Wanua Tangke serta sejumlah penulis Cerpen”Ibu”.