News  

Realitas Getir yang Dihadapi Banyak Jurnalis

Getir

NusantaraInsight, Makassar — Realitas getir yang kini dihadapi banyak jurnalis yaitu berita serius di media massa (media cetak, media daring) sering kalah cepat, kalah menarik, bahkan kalah perhatian oleh derasnya konten media sosial.

Demikian benang merah pemaparan materi Riswansyah Muhsin (mantan Komisioner KPID Sulsel), Muhammad Idris alias Baba Ong (konten kreator), serta Andi Baso Tenri Gowa (Pelaksana Tugas Ketua PWI Gowa), dalam diskusi media di Sekretariat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Gowa, Jalan Tumanurung, No. 1 (GOR Bulutangkis) Gowa, Ahad malam, 07 Desember 2025.

“Media digital tak membunuh pers. Yang hilang adalah mereka yang tak beradaptasi. Gempuran teknologi bukan alasan untuk menyerah,” kata Riswansyah.

Menghadapi tantangan tersebut, katanya, wartawan harus meng-upgrade kemampuan dalam mengelola karya tulis di berbagai platform digital.

“Zaman digitalisasi tak akan mampu menghilangkan kerja-kerja wartawan dalam menyampaikan berita yang aktual dan faktual,” tegas Ciwang, sapaan akrab Riswansyah.

Ia kemudian menambahkan bahwa masalahnya bukan pada teknologinya, melainkan apakah para wartawan siap meninggalkan cara lama.

BACA JUGA:  Pantau Mudik: Per 5 April 2024, 10.673 Pemudik Sudah Tinggalkan Makassar

“Kalau tidak, kita yang akan ditinggalkan oleh pembaca. Wartawan harus menjadi multiplatform storyteller, bukan sekadar penulis teks,” kata Ciwang dalam diskusi bertajuk “Budaya, Jurnalisme, dan Peran Wartawan Gowa di Tengah Gempuran Digitalisasi Informasi.”

Muhammad Idris menambahkan bahwa berita harus hidup, bukan sekadar link mati di timeline. Muhammad Idris yang juga dikenal dengan Baba Ong, membagikan pengalamannya sebagai kreator digital yang berhasil memonetisasi konten bermuatan jurnalistik.

“Menyebarkan link berita di Instagram, Facebook, atau YouTube harus dibarengi kreasi. Gunakan kecerdasan buatan untuk membuat tampilan lebih menarik, integrasikan visualnya, buat judul hidup. Berita itu harus ‘menggoda diklik’, bukan sekadar numpang lewat,” kata Baba Ong.

Ia juga membongkar bagaimana wartawan bisa membangun personal branding secara organik.

“Konten bukan hanya diposting, tapi dikemas. Pilih tagar yang relevan, tulis deskripsi meta yang kuat, konsisten dengan algoritma. Jangan malu tampil di kamera, follower datang dari wajah, suara, dan konsistensi, bukan hanya teks,” ujar Baba Ong.

Wartawan senior Andi Baso Tenri Gowa menimpali dengan mengatakan, digital boleh berubah, tapi martabat profesi wartawan jangan goyah. Transformasi digital tidak boleh melunturkan etika jurnalistik.

BACA JUGA:  Pemkab Bantaeng dan Yayasan Budi Mulya Rayakan Imlek dengan "Persatuan dalam Keragaman, Harmoni, dan Kebersamaan"

“Wartawan PWI harus memperkaya diri dengan wawasan, kemampuan teknis, dan tentu saja menjaga kode etik. PWI berkomitmen menjaga muruah profesi wartawan, sekaligus mendorong jurnalis untuk adaptif dengan perubahan zaman,” kata Andi Baso.