NusantaraInsight. Bima — Syukuran atas penganugerahan Pahlawan Nasional Sultan Muhammad Salahuddin berlangsung, Sabtu (29/11/2025) malam di halaman Asi Mbojo (Istana Bima).
Wartawan media ini melaporkan dari Bima, Wakil Gubernur NTB Hj Indah Damayanti Putri, S.E.,M.IP, Anggota DPRD NTB Abd. Rauf, S.P.,M/M., Wali Kota Bima H.Abd.Rahman H.Abidin, S.E., Bupati Bima diwakili Sekda Adel Linggiardi, S.E. anggota Forkopimda, unsur pimpinan dan anggota DPRD Kota dan Kabupaten Bima, Ketua Organisasi Wanita se-Kabupaten Bima, camat se-Kota Bima, dan para Kepala Desa se-Kabupaten Bima berbaur dengan keluarga Besar Sultan Muhammad Salahuddin dan tokoh adat, ulama, akademisi, dan masyarakat.
Acara dibuka dengan penampilan tari yang dibawakan Sanggar Seni Bunga Samomo SMAN 1 Bima yang melantunkan Lagu Pahlawan. Penampilan kedua berupa pagelaran tari “Wunta Sambia” Ibu Cerdas asuhan Hj, Vera Amalia S.E.M.M.
Sultan Muhammad Salahuddin,Raja Bima XXVIII dan Sultan Bima XIV, memerintah dari tahun 1915 hingga 1951. Lahir di Bima 14 Juli 1888. Sultan Muhammad Salahuddin berjuang diawali dengan mengembangkan pendidikan.
Ia yakin dengan mencerdaskan anak bangsa dapat mengusir penjajah. Sistem pendidikan modern melalui lembaga pendidikan sekolah segera dilaksanakan dengan tetap menjaga budaya Bima.
Sekolah Kita, menjadi sekolah desa yang menjadi sekolah rakyat dibangun di seluruh desa. Pada tahun 1922 Sultan Muhammad Salahuddin mendirikan Sekolah Kejuruan Perempuan di Bima.
Sultan mendukung berdirinya organisasi perempuan pada tahun 1948. Sultan juga memberikan beasiswa kepada anak-anak yang melanjutkan pendidikan ke Jawa dan luar negeri. Setelah kembali ke Bima mereka menjadi guru.
Pada 17 Juni 1942, Jepang mendarat di Bima. Sultan Muhammad Salahuddin juga menentang keinginan Jepang yang hendak memanggil paksa perempuan-perempuan Bima untuk dijadikan “jugun ianfu (wanita penghibur) karena ia menganggap tindakan itu dapat menurunkan martabat perempuan-perempuan Bima.
Seluruh gadis Bima yang berjumlah ratusan orang dinikahkan secara massal. Di tengah kepanikan, Sultan Muhammad Salahuddin mengambil kebijakan yang terkenal dengan nama “nika baronta”.
Pada tangga 31 Oktober 1945, Sultan Muhammad Salahuddin mengibarkan bendera sang Saka Merah Putih pertama kali di depan Istana Bima (Asi Mbojo). Dan pada setiap kejadiaan diwajibkan mengibarkan bendera merah putih. Pada tanggal 20 November 1945, Sultan Muhammad Salahuddin mengeluarkan doktrin bahwa Kesultanan Bima menjadi bagian dari Negara Republik Indonesia.
Dua hari kemudian, 23 November Sekutu mendarat di Bima dan Sultan dengan tegas mengatakan bahwa Kerajaan Bima menolak kedatangan tentara NICA karena Bima telah menyatakan diri berdiri di belakang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pada tanggal 2 Januari 1946, tentara Sekuru mendarat di Teluk Bima dan dengan terpaksa Sultan bersedia berunding di atas kapal Australia pada tanggal 12 Januari 1946. Pada tanggal 15 Juli 1946, van Mook mengundang kepala pemerintah di luar Jawa, yaitu Maluku, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan sebagian Sumatra menghadiri Konferensi Malino. Van Mook meminta agar seluruh kepala pemerintahan memisahkan diri dari NKRI.
Namun keinginan ini ditolak oleh Sultan Muhammad Salahuddin dengan tidak hadir dalam Konferensi Denpasar Bali pada Desember 1946 dengan agenda pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT). Sekutu juga menolak Perjanjian Linggarjati.
Pada tanggal 17 Agustus 1950 Sultan Muhammad Salahuddin mengadakan upacara peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI. Pada tanggal 2 Oktober 1950 istilah kerajaan berubah menjadi kesultanan. Sultan Muhammad Salahuddin wafat di Jakarta 11 Juli 1951 dalam usia 63 tahun.












