Ma’REFAT INSTITUTE Bahas Kesadaran Berkebangsaan dari Bung Hatta

NusantaraInsight, Makassar — Memperingati Hari Pahlawan Nasional, Ma’REFAT Institute Sulawesi Selatan bekerja sama dengan Forum Alumni Sekolah Pemikiran Bung Hatta (FA-SPBH) serta Book Club SPBH-1 menggelar agenda diskusi bulanan bertajuk “Membaca Kembali Bung Hatta” pada Minggu, 9 November 2025. Bertempat di Kantor LINGKAR-Ma’REFAT Makassar, seri ke-12 kali ini mengusung tema: “Kesadaran Berkebangsaan.”

Diskusi yang berlangsung pada pukul 14.00 ini, menghadirkan dua pemantik utama sekaligus pembaca buku: Akademisi/Dosen IAIN Kota Parepare dan Koordinator KLAB (Komunitas Literasi Anak Bangsa) Sidrap, Trian Fisman Adisaputra, S.E., M.M; serta Peneliti LINGKAR (Lembaga Inisiasi Lingkungan dan Masyarakat) serta Mahasiswa Pascasarjana Unhas, Rahmadi Nurdin, S.IP.

“Tak hanya buku, Bung Hatta juga membaca dunia yang dihidupinya: dari konteks global hingga lokal.” Rahmadi membuka diskusi dengan pernyataan lugas. Menurutnya, kesadaran berkebangsaan Bung Hatta lahir dari pembacaan terhadap realitas yang dihadapinya, dari konteks global hingga regional Indonesia.

Pemahaman kebangsaan Bung Hatta salah satunya juga terbentuk melalui pemahaman dan kesadaran mendalam terhadap geopolitik Indonesia. Bung Hatta menekankan bahwa letak Indonesia di persimpangan jalur perdagangan utama menjadikan wilayah ini sebagai simpul penting dalam ekonomi global. Sayangnya, posisi geografis itu telah dimanfaatkan oleh kekuatan kolonial Belanda untuk mengeksploitasi sumber daya dan tenaga kerja Indonesia demi keuntungan mereka. “Kondisi ini menyebabkan ketergantungan ekonomi dan subordinasi politik Indonesia yang menghambat kesejahteraan rakyat dan kedaulatan bangsa,” pungkas Rahmadi.

BACA JUGA:  Relawan Rumah Zakat Sulsel Laksanakan Kampus Relawan, ini Tujuannya

Dalam konteks tersebut, “Tanpa kemerdekaan politik Indonesia akan sulit mengelola sumber dayanya sendiri. Kemerdekaan politik adalah prasyarat menuju kemandirian ekonomi,” tutup Rahmadi mengakhiri sesinya.

“Indonesia bukanlah negara yang kosong, tidak memiliki peradaban. Jauh sebelum Eropa hadir di tanah ini, masyarakatnya telah hidup secara mandiri bahkan melakukan hubungan dengan bangsa lainnya,” Trian Fisman mengambil alih sesi pemaparan.

Di hadapan masyarakat Internasional, Bung Hatta mengajukan protes atas segala penjajahan yang dilakukan Belanda terhadap Bangsa Indonesia. Penjajahan Belanda di Indonesia hanya membuat bangsa Indonesia jatuh dalam keterpurukan. Pendidikan yang dijanjikan Belanda nyatanya tak merata. “15,2% anak saja yang bisa mengenyam pendidikan Sekolah Bumi Putera dengan 93% masyarakatnya buta huruf. Ada banyak pemotongan anggaran dengan tujuan efisiensi di sektor kesehatan dan pertanian.”