Oleh Aslam Katutu
NusantaraInsight, Makassar — Segala sesuatu mempunyai masa berakhir, ujung dari masa berlakunya sesuatu yang pernah dimulai. Di dalam Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT), dibatasi oleh masa perjanjian dalam kurun 35 tahun atau lebih terhitung sejak ditandatangani PPJT tersebut.
Berakhirnya perjanjian ini mengakhiri segala kegiatan baik yang bersifat operasional, pemeliharaan maupun segala kegiatan yang berhubungan dengan operasi jalan tol.
Karena sistem kerjasama antara operator jalan tol dengan pemerintah sebagai owner adalah BOT (Build, Operasi dan Transfer), maka pihak investor hanya memiliki kesempatan untuk mengelola operasi jalan tol selama masa kerjasama.
Fungsi operator disini hanya untuk membangun, mengoperasikan dan akhirnya menyerahkan( transfer) ke pada pemilik di akhir masa kontraknya. Segala hal menyangkut keuntungan maupun kerugian yang diperoleh selama masa pengusahaan jalan tol adalah resiko bagi operator jalan tol.
Identik dengan kontrak PPJT, perjanjian antara manusia (sebagai operator) dengan Tuhannya (sebagai pemilik tunggal saham kehidupan ini) yang disebut sebagai Perjanjian Primordial Kehidupan Manusia (PPKM) juga memiliki batas waktu dan akan berakhir jika tiba saatnya.
Cuma bedanya, klo PPJT ditentukan waktunya oleh kedua pihak dan ditentukan secara jelas kapan berakhirnya, sedangkan KPKM hanya Allah berkuasa mutlak untuk menentukan masa dan waktunya, kapan dan dimana saatnya PPKM itu berakhir saat akhir kehidupan seseorang manusia menemui kematiannya.
“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat; dan Dialah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” [31:34]
Tetapi kematian pada masa berakhirnya PPKM bukanlah akhir dari segalanya. Kematian merupakan bagian dari siklus kehidupan, “ Darinya (tanah) itulah Kami menciptakan kalian, dan kepadanyalah Kami akan mengembalikan kalian, serta dari sanalah Kami akan mengeluarkan kalian pada waktu yang lain,” (QS. Thaha 20:25)
Simak testimoni Yoichiro Sugimoto, seorang muallaf dari Jepang menceritakan : “Saya pernah pergi ke bangladesh. Banyak dijumpai orang miskin jika dibandingkan di Negara Jepang. Ini membuat saya berpikir, kenapa hanya seseorang yang lahir di Bangladesh perlu lalui kehidupan yang susah? Sedangkan orang di Jepang terus mendapatkan kehidupan yang nyaman.












