Mampukah seorang anak memandikan ibunya yang tak lagi bisa mandi dengan tangannya sebagaimana dulu ia dimandikan oleh ibunya dengan penuh kasih sayang.
Begitu besar jasa Ibu yang tak mampu untuk kita lukiskan dan tak akan terbalaskan, maka sejatinya-lah seorang anak berbakti pada orangtuanya, pada Ibunya.
Sebagai bentuk penghormatan pada ibu adalah dengan bersikap hormat dan sopan, berkata lemah lembut dan penuh kasih sayang kepada Ibu.
Sebagaiman Dalil Dari Muawiyah bin Haidah Al Qusyairi radhiallahuahu, beliau bertanya kepada Nabi: “wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, sanadnya hasan).
Ibu memiliki kedudukan sangat mulia, sehingga kepatuhan kepada ibu adalah jalan utama menuju surga. Berbakti tidak hanya saat ibu hidup, tetapi juga mendoakan jika Ibu sudah tidak ada lagi.
Ada satu kisah seorang kaya raya, bahkan berkata sekiranya bisa diberikan kesempatan memilih maka ia rela mengorbankan seluruh harta kekayaannya demi hanya untuk melihat ibunya yang telah tiada walau hanya 1 (satu jam saja), karena saat ibunya masih hidup, hidupnya hanya pas pasan sehingga belum sempat membahagiakan Ibunya.
Harta masih bisa dicari tapi kesempatan untuk memuliakan Ibu jarang bisa kita temukan. Oleh karena itu selagi ajal belum menjeput Ibumu maka muliakanlah ibumu, karena kita tidak bisa menebak kapan kita akan berpisah dengan ibu untuk selama lamanya.
Oleh karena itu pada bulan Ramadhan ini, bulan yang penuh berkah marilah kita menengok sejarah, mengenang kembali masa masa kecil kita bersama Ibu, berada dalam kehangatan dan pelukan Ibu, berada dalam buaian Ibu, cahaya dan kasih yang tak pernah padam.
Untuk Ibuku Almarhumah, semoga Allah Menerima semua amal ibadahnya dan mengampuni semua dosa-dosanya diberikan tempat terindah Disisi-Nya. Aamiin












